Minggu, 27 September 2020
10 Ṣafar 1442 H
Home / Keuangan / Bank Muamalat Targetkan Proses Rights Issue Selesai Akhir Tahun
FOTO | Dok. www.bankmuamalat.co.id
Konsorsium yang dipimpin Ilham Habibie telah bersedia menyuntikkan modal sebesar Rp 2 triliun dalam proses Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Sharianews.com, Jakarta. Untuk memenuhi kebutuhan permodalan, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Saat ini, Konsorsium yang dipimpin oleh Ilham Habibie telah bersedia menyuntikkan modal sebesar Rp 2 triliun dalam proses Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Terkait dengan hal tersebut, Iggi H Achsien, Komisaris Independen Bank Muamalat mengatakan, proses rights issue diharapkan dapat segera selesai di akhir tahun ini.

"Jadi kita mengharapkan right issuenya selesai di akhir tahun.Makanya perlu ada standby buyer, siapa? Ya itu konsorsium yang sudah memiliki kesepakatan sama shareholder," jelas Iggi ketika memberikan penjelasan kepada awak media, Senin (8/10/2018).

Sebelumnya disampaikan pihak Bank Muamalat, rencananya penyuntikan modal sebesar Rp 2 triliun tersebut akan dilakukan pada 11 Oktober 2018 dalam kesempatan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).

“Semua anggota konsorsium termasuk saya ingin menguatkan. Skema investasi memang ada beberapa langkah, ada aset swap dan setelah itu melalui rights issue kami akan menyuntik dana,”ujar Ilham Habibie di Kantor Pusat Bank Muamalat di Jakarta di hadapan media, Rabu (3/10/2018).   

Sementara, Iggi H Achsien menjelaskan, dana rights issue yang diperoleh nantinya akan langsung dimasukkan ke dalam komponen tier 1 alias modal inti.

Untuk mendapatkan modal segar melalui rencana rights issue tersebut setidaknya Bank Muamalat akan mengeluarkan saham seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham dalam jumlah maksimal 20 miliar saham baru.

"Besarannya itu ada 20 miliar saham. Jadi kalau harapan kami, paling tidak ekuivalen (setara) Rp 2 triliun. Angka Rp 2 triliun itu akan menjadi suntikan dana segar bagi Bank Muamalat," ujar Iggi.

Dalam aksi korporasi ini, Bank Muamalat akan menggunakan laporan keuangan Juni 2018. Bank Muamalat juga telah menunjuk pihak  Samuel Sekuritas sebagai penjamin emisi efek atau underwriter.

Sebagai mana diberitakan sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso sempat mengimbau kepada konsorsium investor penyelamat Bank Muamalat menunjukkan escrow account dengan nilai Rp 4 triliun.

"Jadi anggota (konsorsium) harus menunjukkan punya uang yang ditunjukkan dalam escrow account. Berapa escrow account yang diperlukan? Sekitar Rp 4 triliun harus ditunjukkan di escrow account," kata Wimboh di Gedung Soemitro OJK, di hadapan media di Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Pada kesempatan tersebut, Wimboh menambahkan, Bank Muamalat membutuhkan dana untuk suntikan modal senilai Rp 4 triliun hingga Rp 8 triliun.

Meski begitu, Wimboh meminta kepada Konsorsium untuk menyediakan dana untuk suntikan modal minimal Rp 4 triliun. Selain itu, Wimboh juga mengimbau konsorsium segera mengirimkan surat resmi terkait Bank Muamalat.(*)

 

Ahmad Kholil