Jumat, 5 Juni 2020
14 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Bank Syariah Terkena "Pukulan" Tidak Langsung Perang Dagang USA Vs Cina
-
Depresiasi adalah sesuatu yang berada di luar kemampuan bank, bahkan kemampuan BI dan Republik Indonesia.

Depresiasi adalah sesuatu yang berada di luar kemampuan bank, bahkan kemampuan BI dan Republik Indonesia.

Sharianews.com. Jakarta. "Depresiasi membuat nilai mata uang Dolar Amerika Serikat (USD) menjadi lebih mahal. Akibatnya Bank Indonesia mengambil langkah yang sudah diperkirakan yaitu menaikan suku bunga," kata Adiwarman Karim, anggota Dewan Syariah Nasional (DSN).

Lebih lanjut, ia mengatakan, jika berlarut efek berikutnya yang terjadi adalah kredit macet. kalau sudah demikian, bank syariah pun ikut merasakan dampaknya. “Kalau terjadi penguatan Dolar USD, BI akan terpaksa menaikan tingkat suku bunga,”jelas Adiwarman, di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Alur berikutnya, setelah suku bunga naik, menurutnya akan ada dua tahap mekanisme lanjutan. Yaitu akan ada kenaikan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), kemudian LPS menaikkan bunga. “Baru nanti, dana pihak ketiga (DPK) naikan bunga, setelah itu baru bunga kredit naik,”papar Adiwarman.

JIka NPF naik, apa yang harus dilakukan supaya turun? Agar turun, menurut Adiwarman adalah dengan meminta kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan kelonggaran. Misalnya melalui tiga pilar. “Tetapi nanti mungkin OJK bila keadaannya memburuk, OJK bilang tidak perlu tiga pilar, satu pilar saja yaitu mengenai cicilan,”ungkap Adiwarman.

Bagaimana pun ujar Adiwarman, depresiasi adalah sesuatu yang berada di luar kemampuan bank, bahkan kemampuan BI dan Republik Indonesia. “Karena ini kelakuannya Amerika Serikat yang berantem dengan Cina. Indonesia terkena dampaknya. Itu mengapa perbankan menjadi sulit mengatasinya,”paparnya.

Pukulan langsung vs gtidak langsung 

Sementara, bank syariah, belum memiliki portofolio valas atau pembiayan valas yang besar, sehingga tidak terdampak secara langsung dari "pukulan" akibat ulah perang dagang antara Amerika dan Cina ini. Tetapi pukulan tidak langsungnya, seperti naiknya tingkat suku bunga, dan efek ikutannya berupa kredit macet lebih dirasakan.

“Pukulan langsung itu seperti bank-bank yang memiliki pembiayaan dalam bentuk USD, jika memiliki  nasabah, diberikan pembiayaan USD,”jelasnya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh dunia perbankan? Yang harus dilakukan ialah melakukan stress testing. Bank bisa membuat simulasi suku bunga. “Jika suku bunga naik sekian bagaimana, jika naik sekian bagaimana,”kata Adiwarman.

Menurutnya, jika OJK juga sudah melihat fenomena yang terjadi ini sebagai suatu krisis, OJK tentu juga akan mengeluarkan kebijakan baru lagi. Misalnya kebolehan untuk menilai ulang agunan, sehingga agunannya tidak naik lagi.

Meski begitu, untuk kondisi saat ini menurut Adiwarman, kondisinya masih manage-able;  dalam artinya tidak krisis juga tidak terlalu aman. Meski begitu, menurutnya, kondisi saat ini membutuhkan  napas baru. "Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Presiden (Pilpres), serta Asian Games, diharapkan bisa memberikan napas baru,”paparnya

Artinya akan ada banyak turis yang datang ke Indonesia saat Asian Games. Berarti uang yang beredar tambah banyak, terutama mereka yang datang dengan membawa dollar USD.

“Nanti Pileg dan Pilpres uang akan keluar untuk kampanye, segala macam buat baju, kaos, baliho. Meminjam duitnya dari bank untuk keperluan kampanye,”terang Adiwarman seraya mengatakan hal itu bisa memberikan napas baru dari sisi penguatan nillai tukar rupiah di hadapan dolar USD.(*) 

.

Reporter : Aldiansyah Nurrahman Editor : Ahmad Kholil