Minggu, 24 Maret 2019
18 Rajab 1440 H
x

Blockchain dan Industri Halal

Kamis, 14 Februari 2019 13:02
FOTO I Dok. Sharianews
Penggunaan teknologi blockchain dapat menjawab berbagai persoalan yang muncul dalam pelacakan asal-usul komponen produk-produk halal.

Sharianews.com, Industri halal dunia memasuki babak baru. Dalam satu tahun terakhir, teknologi blockchain mulai digunakan untuk melacak asal-usul komponen produk-produk halal. Tercatat, minimal ada dua kelompok perusahaan yang telah meluncurkan paket teknologi blockchain khusus untuk pelacakan kehalalan.

Kelompok pertama terdiri dari Te-Food International yang bekerja sama dengan HalalTrail.

Te-Food International adalah sebuah perusahaan yang berpusat di Jerman dan fokus pada pengembangan sistem pelacak makanan, sejak dari lahan pertanian hingga ke meja makan.

Sementara, Halal Trail merupakan sebuah perusahaan yang berpusat di Inggris dan fokus pada pelacakan komponen makanan halal, khususnya daging ayam dan domba. Kelompok pertama ini meluncurkan paket teknologi blockchain mereka melalui beberapa proyek percontohan mulai Juni 2018.

Kelompok kedua dimotori oleh HLC Technologies, sebuah perusahaan teknologi yang berpusat di Uni Emirat Arab. Kelompok ini meluncurkan paket teknologi blockchain mereka dalam  sebuah demo event di Dubai Airport Freezone (DAFZA) pada 14 Mei 2018. Paket teknologi ini juga telah diperkenalkan di Indonesia dalam acara Blockchain INDO 2018 yang diselenggarakan pada bulan yang sama di Jakarta.

Fitur Blockchain

Teknologi blockchain adalah sekumpulan metode-metode digital untuk menyimpan data identik di lokasi-lokasi berbeda. Teknologi blockchain sering juga disebut sebagai distributed ledger technology (DLT), yang dipopulerkan oleh penulis terselubung dengan nama samaran Satoshi Nakamoto.

Teknologi blockchain memungkinkan kita untuk mencatat suatu keadaan secara real time dan mengimplementasikan konsep kontrak cerdas atau smart contracts. Kontrak cerdas terdiri dari serangkaian kode yang tidak dapat diubah. Kode ini dapat diverifikasi oleh banyak orang tanpa harus melibatkan otoritas pihak ketiga sehingga membuka ruang transparansi dan kepercayaan publik.

Teknologi blockchain telah banyak digunakan dalam sektor keuangan. Misalnya, untuk mengembangkan aset digital yang dapat diperjualbelikan berupa cryptocurrency. Di luar itu, teknologi blockchain telah digunakan untuk melakukan pencatatan perjalanan produk. Sejak dari awal ketika produk tersebut masih berupa bahan baku, sampai ke akhir ketika produk tersebut sudah menjadi barang jadi.

Teknologi blockchain juga telah digunakan untuk melakukan penjaminan kualitas produk, sejak produk selesai diolah hingga produk tersebut benar-benar sampai ke tangan konsumen.

Manfaat Blockchain

Penggunaan teknologi blockchain dapat menjawab berbagai persoalan yang muncul dalam pelacakan asal-usul komponen produk-produk halal.

Misalnya, persoalan yang berawal dari pelibatan komponen-komponen nonhalal selama masa pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi. Mengingat proses pengolahan yang kompleks, sejauh ini tidak selalu mudah untuk mendeteksi ulang keberadaan komponen-komponen nonhalal setelah produk halal berbentuk barang jadi.

Begitu juga, persoalan yang berawal dari cross-contamination dengan komponen-komponen nonhalal selama masa penyimpanan bahan baku atau bahan setengah jadi. Tidak mudah untuk mendeteksi terjadinya cross-contamination setelah bahan baku atau bahan setengah jadi tersebut diolah.

Ketika produk-produk halal telah berbentuk barang jadi pun masih terdapat risiko kontaminasi komponen-komponen nonhalal. Misalnya, selama masa pendistribusian dan penjualan oleh retailer.

Teknologi blockchain memungkinkan pelacakan komponen-komponen produk halal secara mendetail. Dalam kasus makanan halal, misalnya, teknologi blockchain akan memungkinkan pelacakan mulai dari perlakuan terhadap hewan di lokasi peternakan, perjalanan ke rumah pemotongan hewan, penyembelihan di rumah pemotongan hewan, perjalanan ke lokasi distributor dan pengecer daging, hingga pengolahan dan penyajian masakan daging di restoran.

Kontaminasi apapun yang terjadi di sepanjang rantai pasokan akan lebih mudah diketahui. Semua aktivitas di sepanjang rantai pasokan tersebut dapat terekam dalam satu aliran data yang koheren, akurat dan kredibel.

Dengan demikian, penggunaan teknologi blockchain akan memberikan keuntungan bagi para konsumen Muslim yang menginginkan jaminan kehalalan produk.

Biaya

Penggunaan teknologi blockchain untuk melacak asal-usul komponen produk-produk halal memang membutuhkan biaya yang tidak kecil. Terutama pada masa-masa masa-masa awal pengembangan seperti saat ini. Namun, biaya per unit dari penggunaan teknologi tersebut kemungkinan akan semakin kecil seiring dengan semakin luasnya cakupan penggunaan.

Oleh karena itu, kampanye penggunaan teknologi blockchain dalam industri halal harus mulai dioptimalkan. Paling tidak, di kalangan pelaku-pelaku industri besar. Baik industri makanan dan minuman, industri farmasi maupun industri-industri halal lainnya. (*)

Pusat Kajian Ekonomika dan Bisnis Syariah (PKEBS), Fakultas Ekonomika dan Bisnis,Universitas Gadjah Mada

 

Oleh: Vivi Endah Ayuningtyas
#blockchain