Jumat, 5 Juni 2020
14 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / BPRS Alami Kesulitan Pemenuhan Modal Inti
FOTO I Dok. pexels.com
Kebijakan modal inti minimum tersebut sudah merupakan hasil kajian panjang OJK. Dengan modal Rp6 milyar, BPRS diyakini lebih punya kemampuan, ketahanan dan mampu tumbuh lebih cepat.

Sharianews.com, Jakarta ~ Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) memiliki tantnagan permodalam di tahun ini. Hal ini disebabkan adanya perubahan POJK no 05/POJK.03/2015 tentang kewajiban penyertaan modal minimum dan pemenuhan modal inti BPRS Rp3 milyar paling lambat 31 Desember 2019 dan Rp6 milyar pada 31 Desember 2024 yang harus segera terpenuhi.

Kebijakan modal inti minimum tersebut sudah merupakan hasil kajian panjang OJK. Dengan modal Rp6 milyar, BPRS diyakini lebih punya kemampuan, ketahanan dan mampu tumbuh lebih cepat.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Kompartemen BPRS Jabodetebek, Muhammad Hadi Maulidin Nugraha mengatakan, Asbisindo rutin mengadakan silaturahmi untuk membicarakan harmonisasi antar OJK dan BPRS seperti persoalan permodalan tersebut.

“BPRS yang modalnya belum sesuai aturan diminta akuisisi, merger, atau mengubah statusnya menjadi Lembaga Keuangan Mikro. BPRS dituntut untuk konsolidasi di internal,” jelasnya menegaskan, saat ditemui Sharianews.com.

Sehingga bila tidak segera dicari pemegang saham yang terbaru, maka akan ditutup otomatis berdasarkan regulasi tersebut.

Menurutnya, aturan ini harus dilaksanakan. BPRS harus menyesuaikan aturan yang memang sudah disosialisasikan beberapa tahun lalu.

Tujuan aturan ini dibuat memang agar BPRS ini lebih kompetitif di era industri 4.0. Dikhawatirkan modal yang kecil membuat BPRS mengalami permasalahan operasional, kalah saing dengan fintech. Dengan regulasi ini, pemerintah ingin menciptakan industri keuangan yang kuat dan kokoh jadi memang harus menyesuaikan.

Lebih jauh, Hadi mengungkapkan sekitar 30 persen BPRS masih mengalami masalah permodalan ini. Untuk itu diharapkan BPRS ini membuat beragam solusi.

“Bisa menggandeng BPRS yang lebih besar, mungkin mereka harus merger, mencari pembeli baru supaya terpenuhi,” pungkas Hadi. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo