Minggu, 25 Agustus 2019
24 Thu al-Hijjah 1440 H
Home / Zakat insight / Geliat Zakat Community Development di Kepulauan Meranti
FOTO I Dok. Sharianews
Lahan di Desa Tanjung Sari rata–rata milik pribadi tetapi belum bersertifikat. Perkebunan dan peternakan di desa ini pun masih sangat tradisional dan belum menerapkan manajemen yang modern.

Sharianews.com, “Setiap pekan kami bisa panen madu ini satu liter. Itu baru dari satu bonggol sarang lebah. Dengan 5 (lima) bonggol, maka hasil panennya bisa 4 liter dalam satu pekan. Dalam cuaca panas, produktifitas madu akan  semakin meningkat. Mereka menyebutnya dengan madu Klulut.” Begitulah cuplikan pembicaraan kami, ketika berkunjung ke lokasi Program Zakat Community Development (ZCD ) Baznas di Desa Tanjungsari Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau.

Rasa haru dan gembira begitu kami rasakan ketika melihat langsung ke lokasi usaha mikro yang dilakoni masyarakat di desa ini. Program ini merupakan sinergi antara Baznas, Baznas Riau, Baznas Kepulauan Meranti dan Pemda Kabupaten Kepulauan Meranti.

Baznas menyalurkan dana zakat dalam berbagai bidang program, yaikni ekonomi, pendidikan,  dakwah dan kesehatan. Kondisi Desa Tanjung Sari merupakan wilayah yang sangat cocok untuk perkebunan, pertanian, dan peternakan serta hasil lautnya yang menjanjikan. Lahan di Desa Tanjung Sari rata–rata milik pribadi tetapi belum bersertifikat. Perkebunan dan peternakan di desa ini pun masih sangat tradisional dan belum menerapkan manajemen yang modern. Program yang akan dijalankan yaitu pengadaan bibit sapi, pengadaan jaring dan pompong budidaya kelapa, pengadaan komputer, bantuan sumur bor, pembangunan teras musala dengan target sasaran program mencapai 1.141 jiwa.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi yang kami lakukan, program dapat berjalan dengan baik. Pertama, program pengadaan bibit sapi. Setiap mustahik diberikan 2 ekor indukan sapi betina. Mereka ditempatkan di kandang masing-masing yang berada di belakang rumahnya. Kondisi alam di Tanjungsari lumayan cocok untuk memberikan kehidupan bagi sapi-sapi ini. Namun mereka masih harus berjuang untuk mencari pakan rumput ke lokasi yang lumayan jauh dengan menggunakan transportasi sepeda dan sepeda motor. Untuk memenuhi kebutuhan air minum sapi ini, cukup dengan menggali lahan untuk dijadikan sumur. Upaya yang mereka lakukan mulai membuahkan hasil. Indukan sapi dalam jenis sapi bali, mulai ada yang melahirkan anak.

Kedua, program pengadaan komputer. Bagi pelajar yang ada di perkotaan barangkali komputer tidak begitu sulit untuk mendapatkannya. Lain halnya di Desa Tanjungsari ini. Dengan bantuan 5 komputer untuk siswa Sekolah Dasar (SD) dan 5 unit komputer untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Tanjungsari ini, begitu terasa manfaatnya. Untuk mendapatkan kesempatan belajar komputer mereka lakukan secara bergantian. Alhamdulillah keterampilan komputer level dasar sudah mereka miliki. Kami sempat meminta para siswa ini untuk menuliskan pantun. Luar biasa. Dalam waktu singkat mereka bisa menuliskan pantun baik itu pantun yang sudah dihafal maupun pantun karya sendiri. Sebuah khazanah sastra melayu yang perlu terus dilestarikan oleh para siswa.

Ketiga, kami juga berkunjung ke lokasi pembangunan musala. Alhamdulillah pembangunan teras musala sudah selesai dan siap untuk digunakan. Keberadaan musala ini tidak terlepas dari integrasi program ZCD baik ekonomi, pendidikan,  dakwah dan kesehatan. Apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadan, musala menjadi sarana dalam peningkatan iman dan ketaqwaan kepada Allah Swt.

Program ZCD lainnya yang akan dilakukan pada tahap berikutnya adalah pembangunan sumur bor dan budidaya kelapa. Keberadaan sumur bor ini menjadi penting untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat. Sebagaimana diketahui saat ini mereka masih dalam kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air minum. Ketersediaan air minum diperoleh dari penampungan air hujan yang ada di setiap rumah. Kesulitan bakal terjadi ketika curah hujan berkurang dan cuaca panas. Namun ketika cuaca panas, Allah Swt memberikan kemudah rezeki lewat peternakan madu karena produktifitasnya meningkat ketika musim panas.

Program ZCD di Desa Tanjungsari merupakan salah satu potret program pemberdayaan komunitas mustahik yang dijalankan Baznas. Geliat program ZCD di Desa Tanjungsari tidak lepas dari sebuah upaya untuk mengoptimalkan efektifitas penyaluran zakat untuk pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan mustahik sebagaimana tercantum di dalam Alquran surat At-Taubah ayat 60 Sesungguhnya zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk membebaskan orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu kewajiban dari Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Untuk menjaga dan memastikan keberhasilan program, maka Baznas menempatkan satu orang tenaga pendamping. Tugas tenaga pendamping adalah untuk memfasilitasi mustahik mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, supervisi dan sinergi program. Pendamping juga berperan untuk menggali potensi dan peluang-peluang yang bisa dioptimalkan untuk memberdayakan mustahik. Pendampingan ini merupakan salah satu upaya un tuk memfasilitasi masyarakat agar mereka berdaya. Bahkan pendampingan kepada mustahik menjadi salah satu kriteria program zakat produktif.

Peran pendampingan juga penting di dalam membangun kesadaran masyarakat tentang keberadaaan dana zakat ini. Karena perlu disadari bahwa keberadaan zakat ini adalah sebagai dana stimulus kepada masyarakat dalam mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Harapannya, masyarakat sendiri yang mampu mengembangkan dan mengoptimalkan potensi dirinya. Salah satu tantangan peran pendamping yang perlu dioptimalkan adalah terkait dengan strategi pemasaran hasil produksi mustahik, antara lain: madu Klulut, sapi dan ikan.

Untuk produk madu Klulut, selama ini masyarakat masih menjualnya dalam bentuk curah dengan menggunakan jeriken literan. Namun kemudian mereka mulai melakukan inovasi dengan mengemasnya dalam bentuk botol. Potensi pasar yang cukup bagus dari sisi harga adalah dengan memasarkannya ke Kota Batam atau ke Malaysia. Sebagaimana kita ketahui dengan menempuh jalur laut selama sekitar tiga jam sudah sampai ke Kota Batam. Selanjutnya bisa menyeberang lagi ke Singapura dan Malaysia.

Menjadi tantangan sendiri ke depan, dengan terjadinya peningkatan hasil produksi madu, maka pemasaran menjadi penting untuk dioptimalkan. Alhamdulillah saat ini, pemasaran lokal juga mulai bergerak. Madu Klulut juga menjadi konsumsi andalan para nelayan yang melaut sehingga kondisi mereka bisa selalu sehat dan terjaga.   

Produk berikutnya adalah sapi. Secara pemasaran, sapi tidak sulit untuk dijual. Salah satu potensi pasar yang selalu menanti adalah kurban yang dilaksanakan setiap tahun. Oleh karenanya peternak mesti mengoptimalkan perawatan sapi agar terjaga kondisinya selalu sehat hingga Idul Adha tiba. Sedangkan ikan laut juga relatif mudah untuk dipasarkan. Karena menjadi konsumsi harian masyarakat. Bersyukur dana zakat yang disalurkan ke Desa Tanjungsari digunakan untuk pengadaan jaring dan pompong. Bantuan ini bermanfaat sekali untuk meningkatkan mobilitas nelayan yang tadinya baru mampu memancing ikan di sekitar pulau tersebut, saat ini sudah mampu melaut agak ketengah sehingga hasil tanggapan lebih meningkat.

Karena itulah Baznas menempatkan pendamping dengan tujuan untuk menjamin pelaksanaan program  terlaksana dengan tepat, efektif dan berkelanjutan. Sehingga program yang sudah dirintis terus tumbuh, berkembang dan memberikan manfaat untuk kesejahteraan mustahik. Sehingga mampu untuk mewujudkan pencapaian maqashid shariah dan terjadi perubahan dari kondisi mustahik menjadi munfik dan muzaki. Semoga.

*)Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi BAZNAS

oleh: Efri S. Bahri

Tags: