Sabtu, 6 Juni 2020
15 Shawwal 1441 H
Home / Ekbis / Ini Dia Alasan Penetrasi Keuangan Syariah di ASEAN Masih Rendah
FOTO | Dok. istimewa
Rendahnya komitmen pemerintah menyebabkan tingkat kesadaran masyarakat yang juga masih rendah terhadap layanan perbankan Islam.

Sharianews.com, Jakarta. Di sektor perbangkan syariah, ekonomi negara-negara anggota Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), memiliki fondasi yang matang. Meski begitu ada banyak tantangan yang mesti dihadapi, kendati otoritas – pemerintah sedang berupaya meningkatkan langkah-langkah untuk pengembangan perbankan syariah ke depannya.

Hal itu disampaikan oleh lembaga pemeringkat Moody's Investors Service. Simon Chen, Vice President dan Senior Analys Moody's, mengatakan, Malaysia dan Indonesia sebenarnya sedang secara aktif membuat kebijakan untuk mengembangkan perbankan syariah, yang ditujukan sebagai upaya mendorong pertumbuhan perbankan syariah di wilayah dengan populasi muslim cukup signifikan.

Dengan begitu diharapkan dunia perbankan syariah mampu mengembangkan perluasan produk dan jenis layanan syariah sesuai dengan tuntun dan kebutuhan masyarakat. Namun demikian, menurut Chen agar apa yang diharapkan dapat terwujud, dunia industri membutuhkan komitmen yang solid dari regulator atau pemerintah.

Dalam laporan Moody's berjudul "Perbankan Syariah ASEAN: Dorongan Regulasi Mendorong Pertumbuhan Sektor, Membangun Landasan yang Sehat" disebutkan bahwa di sektor perbankan, tingkat penetrasi keuangan Islam saat ini rendah.

Alasannya, sebagian pemerintah belum secara aktif mengembangkan sektor syariah. Karenanya, "Kondisi ini membutuhkan komitmen pemerintah untuk mengembangkan sektor perbankan Islam," kata Chen dilansir di Business Times, Selasa (30/10).

Lebih lanjut, Chen menjelaskan, rendahnya komitmen pemerintah menyebabkan tingkat kesadaran masyarakat yang juga masih rendah terhadap layanan perbankan Islam.

Faktor lainnya adalah kurangnya insentif bagi bank untuk mencurahkan sumber daya untuk mengembangkan sektor keuangan syariahnya.

Strategi perluasan pangsa pasar syariah

Meski begitu dalam cacatan Mooday’s menurut Chen, baik pemerintah Malaysia mau pun Indonesia sebenarnya sedang mencoba mengejar perluasan layanan dan pangsa pasar perbankan syariah. 

Malaysia misalnya, pemerintahnya sedang mendorong peningkatkan pangsa aset perbankan Islam dalam total aset perbankan menjadi 40 persen pada 2020, dibandingkan dengan 32 persen pada akhir Agustus 2018.

Sementara Indonesia juga tengah berusaha meningkatkan porsi pangsa pasar aset perbankan Islamnya hingga 15 persen pada 2023, dari 6 persen pada akhir Juli 2018.

Upaya perluasan aset pasar tersebut, terutama dii negara-negara ASEAN yang berpenduduk mayoritas muslim, dilakukan dengan memanfaatkan keunggulan jumlah populasi, terutama dari kelompok usia utama, akan menghasilkan perluasan basis pelanggan inti.

Chen memaparkan, lingkungan ekonomi yang kuat dan solvabilitas serta posisi likuiditas bank yang kuat dapat membantu kelompok perbankan konvensional. Hal tersebut akan membantu mendorong pertumbuhan perbankan Islam di kawasan, seperti yang terjadi di Malaysia dan Indonesia.

Selain itu, kualitas aset bank, yang umumnya sehat, terutama rasio kredit macet (NPL) pada bank syariah yang lebih rendah dari pada bank konvensional di Malaysia dan di Inndonesia menurut Chen, juga menjadi tanda bahwa, sesunggunya pembiayaan Islam belum menjadi hambatan pada kualitas aset kelompok perbankan.

Dalam laporannya Moody’s juga menyoroti kendala lain mengapa penetrasi perbankan syariah di ASEAN masih rendah. Salah satunya adalah rendahnya basis modal bank-bank Islam di Malaysia juga di Indonesia dibandingkan total aset modal perbankan konvensional.

Kesenjangan modal antara bank-bank Islam tersebut menurut Moody’s berpengaruh terhadap kemampuan penyaluran pembiayaan perbankan syariah dibandingkan dengan bank konvensional  di Negara-negara ASEAN, seperti yang terjadi di Indonesia. (*)

 

Ahmad Kholil