Rabu, 27 Januari 2021
14 Jumada al-akhirah 1442 H
Home / Lifestyle / Ini Profil Ketua Umum MUI Baru, K.H. Miftachul Akhyar
Ketua Umum MUI K.H. Miftachul Akhyar
Kiai Mifta adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah K.H. Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

Sharianews.com, Jakarta - K.H. Miftachul Akhyar terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025 menggantikan Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin yang bergeser posisi ke kursi Ketua Dewan Pertimbangan MUI. Ia menjadi Ketua Umum MUI ke-8 sejak organisasi ini berdiri pada 1975.

Kiai Mifta adalah putra Pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah K.H. Abdul Ghoni. Ia lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

Mengikuti jejak sang Ayah, Kiai Miftah turut mendirikan pondok pesantren di daerah Kedung Tarukan, Surabaya bernama Pesantren Miftachussunnah pada 1982 lalu. Sampai saat ini ia masih berstatus sebagai pengasuh pesantren tersebut.

Dikalangan Nahdlatul Ulama (NU), nama beliau bukan nama yang baru. Kiai Miftah lahir dari tradisi NU dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda.

Di kepengurusan NU, ia mengawalinya dari struktur kepengurusan terendah. Kiai Miftah tercatat pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya 2000-2005.

Kemudian, menjadi Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur 2007-2018 hingga naik menjadi Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Rais Aam PBNU 2018-2020 menggantikan Kiai Ma’ruf yang menjadi Wakil Presiden RI.

Menurut catatan PW LTNNU Jatim Ahmad Karomi, genealogi keilmuan Kiai Miftah juga tidak diragukan lagi. Ia tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri Jawa Timur, Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

Ketika pandemi Covid-19 mulai menyebar di Indonesia, pemikiran maupun pernyataan Miftah belakangan ini turut disorot oleh publik secara luas. Pada April 2020, Kiai Miftah meminta pemerintah membuka secara detail pemetaan zona persebaran Covid-19 dari lingkup terkecil seperti desa-desa.

Zona itu, kata dia, harus dibuka agar menjadi acuan pelaksanaan Surat Edaran Menteri Agama tentang Panduan Ibadah di Bulan Ramadhan di tengah wabah Corona.

"Pemerintah bila perlu membuka peta zona Covid-19 sampai diperkecil ke tingkat desa hingga tingkat kampung. Biar terlihat mana yang zona hijau, zona kuning, dan zona merah. Ini yang bisa hanya pemerintah, biar rakyat tidak semakin bingung," ujar Kiai Miftah.

Rep. Aldiansyah Nurrahman