Minggu, 29 Maret 2020
05 Sha‘ban 1441 H
Home / Keuangan / Inklusi Keuangan Syariah Menurun, Ini Sebabnya
FOTO I Dok. hensongeodata.com
Inklusi keuangan memiliki tujuan agar anggota masyarakat mempunyai akses terhadap berbagai layanan keuangan formal berkualitas, tepat waktu, lancar, dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Sharianews.com, Jakarta ~ Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLK) 2019 mencatat tingkat literasi keuangan syariah naik tipis dari 8,1 persen menjadi 8,93 persen. Sementara tingkat inklusi keuangan syariah turun dari 11,1 persen menjadi 9,1 persen.

Baca juga: Investor Fintek Syariah Ethis Berasal dari 59 Negara

Jika dirunut berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif, inklusi keuangan memiliki tujuan agar anggota masyarakat mempunyai akses terhadap berbagai layanan keuangan formal berkualitas, tepat waktu, lancar, dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Beberapa contoh jasa keuangan yang dimaksud meliputi semua jenis layanan perbankan dan juga asuransi.

Di Indonesia, kelompok masyarakat yang diprioritaskan untuk mendapat akses keuangan antara lain masyarakat berpenghasilan rendah (dalam hal ini MBR atau keluarga prasejahtera), pelaku UMKM, pekerja migran, wanita, disabilitas, anak terlantar, lansia, penduduk daerah tertinggal, serta pelajar dan pemuda.

Menanggapi hal tersebut, Co-Founder dan Direktur Utama Ethis, Ronald Yusuf Wijaya mengatakan, inklusi keuangan syariah menurun karena keuangan konvensional meroket.

“Lembaga keuangan syariah, terrmasuk fintech syariah aktif mengedukasi masyarakat tentang konsep keuangan syariah, tapi di saat bersamaan, keuangan konvensional tidak kalah agresif,” jelasnya menegaskan, saat ditemui Shairnews.com, di Jakarta, belum lama ini.

Ronald menjelaskan, dari segi jumlah, fintech syariah berbanding terbalik dengan fintech konvensional. Jumlah fintech syariah saat ini kurang lebih hanya 8 persen, dari 168 fintech yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau hanya sekitar 13 fintech yang memiliki skema syariah.

Sementara, volume fintech syariah per tahun lalu, penyalurannya hampir mencapai satu triliun rupiah. Sedangkan fintech konvensional sudah mencapai Rp80 triliun.

“Walaupun sebetulnya bicara jumlah penyaluran di fintech syariah itu drastis hingga 400 persen dibanding 2018, tapi perlu dingat yang (fintech) konvesnisonal tidak kalah drastis makanya rasio seaolah-olah tetap jomplang, karena speed-nya tidak sama,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Fintech Syariah ini.

Dirinya berharap, semakin banyak jumlah pemain fintech syariah semakin mempercepat pertumbuhannya. “Tapi yang harus dijustifikasi adalah konvensionalnya seberapa cepat juga. Kalau kita (fintech syariah) naik empat kali lipat, kalau ini (fintech konvensional) naiknya mungkin enam kali lipat tetap kalah kan?” pungkas Ronald.

Sebagai informasi, secara nasional tingkat inklusi keuangan telah mencapai target 2019 yakni 75 persen. Inklusi keuangan naik dari 67,8 persen menjadi 76,19 persen. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo