Minggu, 24 Maret 2019
18 Rajab 1440 H
x
FOTO I dok. Shutterstock
Kantin dengan jaminan halal ini dikarenakan produk yang dijual di dalamnya telah melalui uji kritis sertifikasi halal.

Sharianews.com, Jakarta ~ Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Prof Sukoso berhasil membuat kantin halal pertama di Indonesia. Lebih tepatnya berada di Uiversitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur.

Kantin dengan jaminan halal ini dikarenakan produk yang dijual di dalamnya telah melalui uji kritis sertifikasi halal.

"Alhamdulillah, akhirnya model pembinaan UMKM yang pernah saya cetuskan dan praktikkan berhasil menghantar kantin Akademik Univ Brawijaya Malang sebagai Kantin Kampus pertama bersertifikat halal," ucap Prof Sukoso ketika berbincang dengan Sharianews lewat aplikasi chatting, Rabu (18/2).

Sukoso yang juga menjabat sebagai ketua pusat studi halal Thoyib, Universitas Brawijaya (HTSC UB) menceritakan awal mula bagaimana terbentuknya kantin halal yang sudah berdiri sejak 2016 lalu.

"Program utama HTSC UB ini adalah kantin kampus standar halal, kemudian dari proposal HTSC UB yang kami ajukan disetujui oleh Rektor UB pada saat itu Prof. DR. M. Bisri," sambung Sukoso.

Kemudian, tim pelaksana, dikatakan Sukoso, dibentuk rektor untuk implementasi proposalnya.

"Salah satunya adalah DR. Asmaul yang bekerja dengan koordinasi dan petunjuk saya," kata Sukoso.

Perguruan tinggi yang mempunyai banyak SDM, yaitu mahasiswa dan dosen bisa menjadi kader jaminan produk halal. Sedangkan infrastruktur seperti laboratorium bisa menjadi media untuk menguji coba produk-produk halal.

Selain UB, saat ini ada enam perguruan tinggi yang sudah mulai berkomitmen untuk melakukan penjaminan terhadap produk halal, yaitu ITS, IPB, Unair, UGM, Undip, dan ITB. "Beberapa perguruan tinggi seperti Undip akan mengadakan seminar internasional terkait halal toyyib, sedangkan ITB sudah mengadakan diskusi tentang jaminan produk halal toyyib," kata Sukoso.

Saat ini, tuntutan produk halal sudah menjadi tren bagi masyarakat internasional. Bahkan, negara-negara maju saat ini sudah mulai berkomitmen untuk menawarkan konsep pariwisata halal kepada masyarakat internasional.

Kantin ini diharapkan dapat mampu memberi pembelajaran bagi banyak pihak, seperti pendidik, pemilik kantin, maupun dosen dan mahasiswa. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo