Minggu, 27 September 2020
10 Ṣafar 1442 H
Home / Ekbis / Kemenag Minta Pembuatan Brand Ekonomi Syariah Libatkan Stakeholders
Foto dok. Kemenag
Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) akan membuat Brand Ekonomi Syariah.

Sharianews.com, Jakarta - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) akan membuat Brand Ekonomi Syariah. Pembuatan brand ini akan dilakukan melalui sayembara dan dirilis jelang akhir tahun 2020.

Sebagai anggota KNEKS, Kementerian Agama (Kemenag) menyambut baik dan mendukung program tersebut. Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Fuad Nasar.

Namun demikian, Fuad meminta agar pembuatan Brand Ekonomi Syariah melibatkan dukungan, masukan, dan afirmasi dari lintas stakeholders. Selain kementerian/lembaga dan pelaku industri keuangan syariah, pembentukan brand ini juga perlu melibatkan Pemerintah Daerah, organisasi masyarakat, perguruan tinggi bahkan Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.

“Hal ini sejalan dengan visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia,” tegas Fuad.

Dalam laman resmi Kemenag, Jumat (7/8), menurut Fuad, Indonesia memiliki instrumen ekonomi dan keuangan syariah yang relatif terlengkap di dunia. Instrumen itu meliputi sektor ekonomi komersial maupun ekonomi sosial.

Semua ada dan memiliki peluang untuk berkembang, meski literasi keuangan syariah juga masih relatif rendah. Fuad menilai, perlu dorongan bersama untuk meningkatkannya.  Karenanya, Brand Ekonomi Syariah yang dibuat harus merangkum semua entitas yang ada dan merajut semua kebutuhan pengembangan ke depan. 

“Kemenag selama ini telah melakukan banyak hal dalam penguatan edukasi dan literasi zakat dan wakaf serta jaminan produk halal di tanah air.  Khusus untuk sektor zakat dan wakaf, Kemenag akan terus meningkatkan literasi masyarakat seiring tren pengembangan sektor keuangan sosial syariah untuk ketahanan ekonomi nasional,” tutur Fuad Nasar.

Fuad menambahkan, founding fathers negara pada tahun 1945 telah menggariskan dalam UUD bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

Oleh karena itu, prinsip tolong menolong (ta’awun) dan gotongroyong sebagai salah satu nilai dasar ekonomi syariah dan pilar Sistem Ekonomi Pancasila adalah karakter ideal yang membedakan ekonomi bangsa Indonesia dari ekonomi liberal-kapitalistik dengan semangat persaingan bebas.

“Sistem ekonomi yang sesuai dengan kepribadian dan pandangan hidup bangsa itulah yang diharapkan mewarnai praktik berekonomi di negara kita agar menghasilkan kemakmuran masyarakat, mengatasi kemiskinan, dan mewujudkan pesan sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya

Rep. Aldiansyah Nurrahman