Jumat, 5 Juni 2020
14 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Kinerja UUS Terbantu Bank Induknya
Foto: Nu.or.id
Kinerja Unit Usaha Syariah (UUS) dari sisi pembiayaan dan efisiensi secara umum lebih bagus dibanding bank umum syariah. Keberadaan bank induk sangat membantu kinerja tersebut.

Kinerja Unit Usaha Syariah (UUS) dari sisi pembiayaan dan efisiensi secara umum lebih bagus dibanding bank umum syariah. Keberadaan bank induk sangat membantu kinerja tersebut.

''Beban UUS tidak ditanggung sendiri, tapi di-share dengan bank konvensional sebagai bank induknya,'' kata pengamat ekonomi syariah Gunawan Yasni kepada sharianews.com, Jumat (16/8/2018), di Jakarta. 

Menurut Yasni, pada Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) misalnya, kenapa lebih efisien karena tidak semua biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh UUS, tetapi juga oleh bank induk. Dalam hal gedung misalnya, UUS masih banyak memakai gedung yang dimiliki bank induknya.

Kemudian pada masalah Non Performing Finance (NPF). Menurut Yasni perlu dicermati perbedaan perhitungan pembiayaan bermasalah di UUS dan BUS. Pada NPF di bank Konvensional (biasanya disebut NPL-Non Performing Loan) kriteria pembiayaan lancar bisa dengan hanya mencicil bunga, cicilan pokok tidak selalu harus dicicil. 

''Hal seperti itu sudah dianggap lancar. Penilaian konvensional seperti itu,'' kata Yasni. UUS bisa mengikuti seperti itu.

Sementara untuk BUS, pembiayaan dianggap lancar bila sudah mencakup cicilan pokok dan pembiayaan. Kenapa? Karena sifatnya pembiayaan, bukan utang-piutang melainkan pembiayaan. Jadi perhitungan yang harus dicicil berbeda dengan bank konvensional.

Lebih lanjut, Yasni mengatakan sifat pembiayaan pada BUS atau UUS berbasis bagi hasil, jual beli atau berbasis sewa-menyewa. “Jadi bila bayar kelebihannya untuk bagi hasil, margin ataupun sewa-menyewa itu pada saat bersamaan harus ada pengurangan pokoknya juga,” ujarnya.

Menurut Yasni, secara rata-rata bank konvensional yang menjadi induk UUS kekayaannya lebih besar dibanding BUS. Jadi kalau ada masalah pembiayaan di UUS, bank induk berani pasang badan untuk mengambil permasalahan pembiayaan tersebut.

“Sementara BUS harus tangani sendiri, berdarah-darah sendiri dengan biaya yang harus mereka tanggung sendiri. Dari situnya saja secara pasti akan menghasilkan NPF yang berbeda,” terangnya.

Seperti diketahui, dari data OJK per Mei 2018, BOPO UUS adalah 72,36 persen sedangkan UUS 88,90 persen, kemudian NPF UUS di posisi 2,52 persen, sedangkan BUS 4,86 persen. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman. Editor: Anif Punto.