Minggu, 29 Maret 2020
05 Sha‘ban 1441 H
Home / Keuangan / Kisah CEO Ethis Ronald Yusuf Wijaya, dari Agnostik Jadi Mualaf
Sebelum memeluk Islam, ia adalah seorang agnostik, meski di Kartu Tanda Penduduk (KTP) tercatat sebagai penganut Buddha.

Sharianews.com, Jakarta ~ Hidayah memang bisa datang kapan saja, di mana saja, dari mana saja, dan dapat diraih siapa saja. Itulah yang dialami Co-Founder dan Direktur Utama Ethis Ronald Yusuf Wijaya.

Ia adalah seorang mualaf. Sebelum memeluk Islam, ia adalah seorang agnostik, meski di Kartu Tanda Penduduk (KTP) tercatat sebagai penganut Buddha.

Sebagai informasi, agnostik sendiri bisa diartikan sebuah paham yang memercayai keberadaan Tuhan, tetapi tidak memercayai ajaran agama apa pun. Beberapa tokoh dunia yang dikenal sebagai penganut agnostik di antaranya adalah John Key (lahir 1961) politikus dan perdana menteri asal Selandia Baru sejak 2008, hingga Warren Buffet yang dikenal sebagai ‘bapak’nya investor dunia, juga mengaku sebagai agnostik.

“Dulu saya tidak punya agama, basicly saya tidak punya agama, agnostik. Kalau KTP saya Buddha, tapi saya ke vihara seumur hidup baru dua kali,” ujarnya, saat ditemui Sharianews.com, di Kantor Ethis, Jakarta, Kamis (13/2).

Perjalanan Ronald untuk menjadi seorang Muslim, berawal saat ia meniti karir. Setelah lulus dari kuliah, ia bekerja di perusahaan asal Singapura selama tiga bulan. Ia mulai bertualang karir di Palembang dan Makassar. Pernah bekerja di pertambangan dan juga pernah sebagai marketing produk kesehatan.

Hingga akhirnya karirnya hancur, perusahannya bangkrut. Di waktu yang sama ayahnya terkena struk. Biaya rumah sakit menelan kocek hingga Rp800 juta membuat Ronald semakin terpuruk.

Pernah suatu ketika dia pulang ke Jakarta dan sempat dekat dengan perempuan Kristen. Dari situ, ia mulai rutin Gereja setiap hari Minggu. Meski sudah tidak dekat dengan perempuan itu lagi, pendiri perusaahn fintech syariah ini tetap rutin datang ke gereja. Ia merasa ini adalah ‘panggilan’.

Selama kurang lebih tiga bulan mengunjungi gereja sendiri, ia pun memutuskan untuk dibaptis. Sepekan setelah dibaptis, ia merasakan banyak kejadian yang membuatnya tidak nyaman. Hatinya mulai bertanya, benarkah Kristen adalah agama yang tepat untuknya.

Ronald adalah sosok yang mudah berkawan dengan siapa saja, tidak memandang latar agama apa pun, termasuk Muslim. Saat ia mengalami kebingungan terkait keyakinan barunya dan juga kebangkrutan, ia mengikuti kajian bersama teman-teman Muslimnya. Saat itu, topik kajian yang ia ikuti sedang mengangkat tema tentang sedekah.

“Saya dulu orang yang tidak percaya sedekah, ya. Cuma waktu itu yang memberikan kajian bilang sedekah itu ibarat orang makan, kalau tidak dibuang jadi penyakit nanti. Wah ini dalam sekali,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Fintech Syariah ini.

Setelah mengikuti kajian, ia sedang memegang uang Rp45 ribu saja. Kebetulan bertemu dengan pengemis yang meminta-minta kepadanya. Ronald kemudian secara refleks memberikan semua uangnya yang dimilikinya saat itu.

Selang beberapa hari kemudian hal yang tidak diduga terjadi, klien-klien lamanya di Makassar meneleponnya. Menanyakan stok barang-barang jualannya. Setelah ditelepon itu, ia berpikir seperti dibilang kajian yang pernah diikutinya, bahwa rezeki itu sudah diatur, kala kita bersedekah Allah akan melipatgandalkan.

Ronald serius mempelajari Islam. Sempat menimba ilmu di Masjid Sunda Kelapa, mendapat pembekalan kurang lebih selama dua minggu. Pelan-pelan ia pelajari Islam. Begitu juga Al-Qur’an,ia meyakini setelah Nabi Isa masih ada nabi selanjutnya, yaitu Nabi Muhammad. “Saya merasa ini jalannya, saya ambil keputusan saya masuk Islam,” imbuhnya.

Ia pun meminta izin ke orangtuanya untuk memeluk Islam. Ronald mengaku, dirinya tidak mengalami kesulitan berarti. Orangtua Ronald mengizinkannya memeluk Islam. Akhirnya pada 2012, Ronald memutuskan untuk resmi menjadi seorang mualaf. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo