Sabtu, 27 Februari 2021
16 Rajab 1442 H
Home / Fokus / Kurang Dua Pekan lagi, Bank Syariah Super Akan Lahir
Foto dok. Shutterstock
Kurang dari dua pekan lagi, tepatnya 1 Februari 2021 bank ini akan lahir.

Sharianews.com, Jakarta - Indonesia bersiap menyambut bank syariah super, PT. Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang merupakan bank penggabungan (merger) tiga bank syariah milik BUMN, yakni PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri. Kurang dari dua pekan lagi, tepatnya 1 Februari 2021 bank ini akan lahir.

Digadang-gadang BSI akan memiliki aset mencapai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Selain itu, bank hasil merger ini akan didukung dengan keberadaan lebih dari 1.200 cabang, 1.700 jaringan ATM, serta didukung 20 ribu lebih karyawan di seluruh Indonesia,

Deputi Bidang Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian BUMN Nawal Nely mengatakan dalam peta perbankan di Indonesia BSI akan menduduki peringkat 7 atau 8 berdasarkan skala asetnya. “Secara global, BSI akan menjadi satu dari top 10 global bank yang islamic,” jelasnya.

Dengan kekuatan dan pencapaian itu, maka tidak heran bank syariah ini dikatakan super. Sejumlah manfaat pun akan bisa diberikan BSI nanti, baik untuk masyarakat ataupun industri.

Direktur Jasa Keuangan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Taufik Hidayat memaparkan manfaat kehadiran BSI. Pertama, peningkatan kualitas dan jangkauan layanan keuangan berdasarkan prinsip syariah dengan harga yang lebih kompetitif untuk masyarakat. Kedua, peningkatan inklusi keuangan syariah pada berbagai level masyarakat, dari tingkat korporasi sampai dengan individu.

“Ketiga, pada level korporasi, BSI dapat memberikan opsi instrumen keuangan syariah yang lebih variatif sesuai dengan kebutuhan nasabah korporasi. Lalu, keempat, transaksi transfer antara Mandiri Syariah, BNI Syariah dan BRI Syariah yang sebelumnya dikenakan biaya transfer, akan menjadi bebas biaya karena berada dalam entitas yang sama,” tutur Taufik.

Sementara bagi industri perbankan, bank hasil merger ini akan mengubah peta persaingan industri perbankan nasional dimana BSI diperkirakan akan menempati posisi ke-7 berdasarkan jumlah aset secara nasional.

Saat terbentuk nanti, BSI akan masuk dalam jajaran Bank BUKU III dan direncanakan akan masuk BUKU IV pada Quartal I di 2022. Dengan demikian, BSI akan memiliki keleluasaan dalam melakukan ekspansi bisnis termasuk dalam kaitannya menyasar pada pangsa pasar keuangan syariah global.

Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN Hery Gunardi menambahkan, BSI di segmen ritel akan memiliki ragam solusi keuangan dalam ekosistem islami seperti terkait keperluan ibadah haji dan umrah, zakat, infak, sedekah, wakaf, produk layanan berbasis emas, pendidikan, kesehatan, remitansi internasional, dan layanan dan solusi keuangan lainnya yang berlandaskan prinsip syariah yang didukung oleh kualitas digital banking dan layanan kelas dunia.

Di segmen korporasi dan wholesale, bank akan memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam sektor-sektor industri yang belum terpenetrasi maksimal oleh perbankan syariah. Selain itu, diyakini juga akan dapat turut membiayai proyek-proyek infrastruktur yang berskala besar dan sejalan dengan rencana Pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Di samping itu, bank akan menyasar investor global lewat produk-produk syariah yang kompetitif dan inovatif.

Di segmen UMKM, bank hasil merger akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM melalui produk dan layanan keuangan syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM baik secara langsung maupun melalui sinergi dengan bank-bank Himbara dan Pemerintah Indonesia.

BSI diproyeksi dan ditargetkan akan menyalurkan pembiayaan untuk UMKM minimal 23 persen dari total portofolio pada Desember 2021. “BSI akan menjadi bagian ekosistem dan sinergi pemberdayaan pelaku usaha UMKM, mulai dari fase pemberdayaan hingga penyaluran KUR Syariah,” ujar Hery.

Sesuai program pemerintah melalui Kementerian BUMN, bahwa BSI akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM melalui produk dan layanan keuangan syariah yang sesuai, juga melalui sinergi dengan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Hingga September 2020, nilai total pembiayaan UMKM yang disalurkan ketiga bank syariah Himbara anggota merger mencapai Rp36,36 triliun. Jumlah itu terdiri dari pembiayaan UMKM dari BRISyariah sebesar Rp18,7 triliun, Bank Syariah Mandiri Rp11,67 triliun, dan Bank BNI Syariah Rp5,99 triliun.

Sementara itu, Peneliti Senior Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia Banjaran Surya Indrastomo berharap BSI mempunyai lembaga penelitian independen sendiri atau memberi dukungan terhadap penelitian dan pengembangan sebagai upaya mengembangkan keuangan syariah di Tanah Air.

“Lalu, tugas besar BSI untuk bisa menarik likuiditas yang besar dari Timur Tengah dengan aksi korporasi seperti pembukaan cabang/representative office atau menjadi salah satu backbone untuk mendukung sukuk insurance sampai Dubai sehingga dana yang abandon di sana mampu mendorong perekonomian Indonesia,” ujar Banjaran.

Meski didukung dengan sejumlah kekuatan, BSI tentu tetap dihadapkan pada sejumlah tantangan dan strategi untuk menghadapinya. Taufik mengungkapkan pada tahap awal BSI berdiri, dibutuhkan pengelolaan manajemen risiko yang baik, khususnya dalam menangani risiko operasional seperti sumber daya manusia dan teknologi informasi.

Selain itu, strategic risk yang berkaitan dengan pelaksanaan visi BSI juga perlu menjadi perhatian. Tantangan berikutnya yang dihadapi adalah terkait dengan ekosistem keuangan syariah yang belum sepenuhnya terbentuk untuk mendukung BSI secara optimal.

Lebih rinci, ia menjelaskan, jika dilihat pada ekosistem keuangan konvensional, umumnya, Bank Umum Konvensional besar memiliki dukungan dari sektor keuangan lainnya seperti asuransi, investment banking, multifinance, venture capital dan sebagainya. Sementara pada BSI masih berdiri sendiri. Oleh karena itu, selain bank syariah yang besar, diperlukan pula pengembangan ekosistem keuangan syariah sebagai pendukung.

Tidak lupa dingangatkan Taufik, pengelolaan risiko baik dari sisi operasional maupun strategis perlu diperhatikan demi kesuksesan BSI kelak.

Risiko operasional, misalnya, terkait dengan penyatuan atau pembentukan corporate culture yang dapat menyinergikan ketiga budaya perusahaan yang berbeda. Selain itu, penyatuan sistem IT yang berbeda memerlukan perhatian khusus agar layanan kepada nasabah tetap berjalan secara optimal selama masa transisi tersebut.

Risiko strategis berkaitan dengan implementasi atas rencana-rencana strategis yang telah disusun oleh Tim PMO Merger Bank Syariah.

Dalam menjalankan kegiatan operasional, BSI memerlukan dukungan dari keseluruhan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah seperti industri pasar modal syariah, asuransi syariah, investment banking, dan industri terkait lainnya. Oleh karena itu, kesiapan ekosistem pendukung perbankan syariah juga perlu mendapat perhatian khusus agar BSI dapat berfungsi secara optimal.

Rep. Aldiansyah Nurrahman