Rabu, 5 Agustus 2020
16 Thu al-Hijjah 1441 H
Home / Ziswaf / Lewat Wakaf, Indonesia Bisa Mencapai Global Hub Ekonomi dan Keuangan Syariah
Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mencanagkan menjadikan Indonesia sebagai global hub ekonomi dan keuangan syariah 2024.

Sharianews.com, Jakarta - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mencanagkan menjadikan Indonesia sebagai global hub ekonomi dan keuangan syariah 2024.

Direktur Bidang Pendidikan dan Riset Keuangan Syariah Sutan Emir Hidayat mengatakan salah satu jalannya adalah dengan mengembangkan wakaf. Untuk itu, dari tahun ke tahun ada inisiatif strategis terkait dengan wakaf hingga 2024.

Diantaranya, di tahun 2020, adanya pengembangan aset dan tata kelola wakaf. Kemudian, di tahun 2021 memunculkan Islamic Social Finance Service Board (ISPSB). Termasuk di 2022 terbentuk adanya digitalisasi wakaf.

“Ini merupakan inisiatif strategis yang ingin dikembangkan sampai 2024,” ucap Emir, dalam acara Kelas Literasi Zakat dan Wakaf via video telekonfernce yang diselenggarakan Badan Wakaf Indonesia (BWI), Kamis (11/6).

Menurutnya, potensi wakaf di Indonesia ini luar biasa. Tercatat ada sebanyak 387.370 jumlah lokasi wakaf yang tersebar di seluruh pulau di Indonesa. Di mana yang paling banyak berada di Pualu Jawa. Dari segi luasnya, wakaf mencapai lebih dari 51 ribu Ha se-Indonesia. Namun yang perlu menjadi catatan baru sekitar 61 persen yang bersertifikat.

Lebih lanjut, Emir menambahakan, berdasarkan Skor Indeks Literasi Wakaf (ILW) per dimensi 2020 skornya 50,48 nilai ILW secara nasional. Kemudian nilai literasi pemahaman wakaf dasar dengan skor 57,67 dan nilai literasi pemahaman wakaf lanjutan skor 37,97.

Selanjutnya, untuk Indeksi Literasi Ekonomi dan Keuangan Sosial Syariah Nasional 2019 sebesar 16,2 persen.

Sementara itu, Ketua Divisi Pembinaan dan Pemberdayaan BWI Hendri Tanjung memaparkan ada sejumlah tantangan untuk mengembangkan wakaf di Indonesia.

Pertama, mengembangkan paradigma wakaf. Kedua, meningkatkan kesadaran berwakaf. BWI memiliki gerakan menumbuhkan kesadaran berwakaf di sekolah dan perguruan tinggi.

Ketiga, peningkatan kompetensi nazir. Keempat, meningkatkan tata kelola kepatuhan terhadap good governance principals dan waqf core principles.

“Kelima, keanekaragaman pengelolaan aset wakaf dengan risiko terkelola (waqf linked sukuk). Terakhir atau keenam, memanfaatkan teknologi digital,” pungkas Hendri.

Rep. Aldiansyah Nurrahman

Tags: