Sabtu, 6 Juni 2020
15 Shawwal 1441 H
Home / Forum Milenial / Melirik Ajaran Islam dalam Berkonsumsi
Sebagai agama yang universal Islam mengatur segala aspek kehidupan dari level ketauhidan hingga level kegiatan sehari-sehari, diantara yang diatur dalam Islam adalah masalah konsumsi. Terdapat lima prinsip dasar dalam Islam yang dapat menjadi rujukan bagi kita sebagai ummat muslim dalam melakukan sebuah aktifitas konsumsi.

Sharianews.com, Akhir-akhir ini diberbagai belahan dunia disibukkan dengan wabah yang masuk dalam kategori pandemi. Wabah ini disinyalir berasal salah satu kota di China yaitu Wuhan. Menurut informasi, tidak lama ketika wabah itu menyerang kota Wuhan seketika berubah menjadi kota mati tak berpenghuni. Begitu sigap virus itu menelantarkan semuanya. Berbagai sektor luluh lantak dibuatnya, itulah virus corona yang dikenal dengan sebutan Covid-19 menjadi perbincangan dimana-mana.

Begitu menakutkan virus ini bagi manusia, apalagi bagi mereka yang sudah lanjut usia ditambah bagi yang memiliki imun tubuh lemah untuk sangat perlu berhati-hati. Virus yang tidak nampak wujud nyatanya, virus yang sangat mudah penularannya dan yang bergejala seperti demam tinggi sekejap dapat melayangkan banyak jiwa di seantero dunia.

Seyogyanya perlu perenungan dari hadirnya musibah ini. Kita perlu seni dalam memahami, dan mengenali aturan dalam hidup ini. Tidak berlama-lama informasi dan berita ini sudah tersebar. Penyebab utamanya disinyalir berasal dari makanan dan pola berkonsumsi masyarakat.

Bagi setiap muslim, Islam sebagai agama tauhid adalah kerangka acuan paripurna dalam seluruh aspek kehidupan, dan juga menyadari bahwa Islam secara universal mengatur setiap lini kehidupan ummatnya. Diantaranya adalah masalah konsumsi. Dalam Islam konsumsi dikendalikan oleh lima prinsip dasar yang dapat dijadikan prinsip fundamental dalam berfikir dan bertindak. Prinsip tersebut dapat dirangkum sebagai berikut:

Prinsip Keadilan
Dalam berkonsumsi, harta yang digunakan haruslah didapatkan dengan jalan keadilan, Tidak dengan harta orang lain yang diperoleh melalui jalan kebathilan. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah: 188. “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Prinsip Kebersihan
Prinsip yang kedua ini tercantum dalam kitab suci Al-Qur'an maupun Sunnah tentang makanan. Harus baik atau cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera. Karena itu, tidak semua yang diperkenankan boleh dimakan dan diminum dalam semua keadaan. Dari semua yang diperbolehkan makan dan minumlah yang bersih dan bermanfaat.

Firman Allah dalam QS Al-Baqarah:173. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Kasih sayang Allah melimpah kepada makhluk, karena itu Dia selalu menghendaki kemudahan buat manusia. Dia tidak menetapkan sesuatu yang menyulitkan manusia.

Prinsip Kesederhanaan
Sederhana merupakan sikap bersahaja dan bisa disebut merupakan sikap tidak berlebih-lebihan. Dari Miqdam Ibnu Ma’dikarib sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada wadah yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya, jikapun ingin berbuat lebih, maka sepertiga untuk makanan dan sepertiga untuk minum dan sepertiga lagi untuk nafasnya. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Islam mengingatkan manusia agar tidak terlena dalam kehidupan yang materialistis dan hedonistis. Hal ini bukan berarti bahwa Islam melarang manusia untuk menikmati kehidupan di dunia. Allah memberikan manusia berbagai kenikmatan yang menunjang kehidupan manusia yang dinamis, berupa pakaian, minuman, makanan, perumahan, kendaraan, alat komunikasi, alat rumah tangga, dan sebagainya.

Prinsip kesederhanaan intinya adalah mengatur manusia dalam aktivitas konsumsi dengan sikap yang sederhana alias tidak berlebih-lebihan, seperti firman Allah SWT dalam QS Al- A’raf: 31. “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Prinsip Kemurahan Hati
Dengan mentaati perintah Islam tidak ada bahaya maupun dosa ketika kita memakan dan meminum makanan halal yang disediakan Tuhan karena kemurahan hati-Nya. Keberhasilan dalam Islam diukur dengan keridhaan Allah. Segala perbuatan yang dilakukan harus selaras dan tidak bertentangan dengan apa-apa yang ditetapkan Allah. Kekayaan, tenaga, waktu dan semuanya tidak digunakan untuk kepentingan sendiri tetapi juga untuk kegiatan sosial seperti zakat, infak, dan sedekah. Itulah kenapa Islam memotivasi umatnya untuk menyalurkan sebagian rejekinya. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, sedang Beliau berada diatas mimbar. Beliau menyebutkan tentang sedekah dan menjauhi perbuatan meminta-minta, karena tangan diatas lebih baik dari tangan di bawah. Tangan diatas adalah yan memberi dan tangan di bawah adalah yang menerima.

Allah berfirman dalam QS Saba’: 39. “Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya”.

Demikian Allah mengatur dan menetapkan perolehan rezeki semata-mata karena kebijaksanaannya dan karena itu tidak perlu risau dan bersifat kikir dalam menafkahkannya. Allah akan mengantinya di dunia atau di akhirat, penggantian yang serupa atau lebih baik darinya. Itu pun berdasar kehendakNya. Dialah yang maha kaya dan dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.

Prinsip Moralitas
Peningkatan atau kemajuan nilai-nilai moral dan spiritual seseorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum makan dan menyatakan terima kasih kepada-Nya setelah makan. Dengan demikian ia akan merasakan kehadiran Illahi pada waktu memenuhi keinginan-keinginan fisiknya. Hal ini penting artinya karena Islam menghendaki perpaduan nilai-nilai hidup material dan spiritual yang berbahagia.

Diantara prinsip penting moralitas yang perlu diperhatikan adalah, Pertama: Kebersamaan/gotong royong, sesunguhnya saling keterkaitan dan saling sepenanggungan merupakan salah satu ciri dasar umat Islam, baik individu maupun kelompok. Kedua: Keteladanan, Umar Radiyallahu Anhu, selalu melakukan pengawasan perilaku konsumsi terhadap para individu yang menjadi panutan ummat agar tidak menyelewengkan pola konsumsi mereka. Ketiga: Tidak membahayakan orang lain, setiap muslim wajib menjauhi perilaku konsumtif yang mendatangkan mudharat terhadap orang lain, baik secara langsung maupun tidak, terlebih jika bermudharat bagi orang banyak.

Demikianlah Islam mengatur ummatnya dalam hal berkonsumsi agar dapat memperoleh maslahah hidup yang berlimpah keberkahan baik di dunia ini hingga akhirat nanti. Semoga kita semua dapat mengamalkan perintah tersebut dan terhindar dari cobaan dan marabahaya yang menimpa. ed

 

Oleh: Darnela Putri