Sabtu, 6 Juni 2020
15 Shawwal 1441 H
Home / Global / Mengapa Produk Perbankan Syariah Banyak Diminati Non-Muslim?
FOTO | Dok. amp.economist.com
Ada beberapa alasan mengapa penduduk non-muslim di Inggris kini lebih tertarik terhadap produk-produk syariah, terutama di dunia perbankan. Beraikut ini alasannya.

Sharianews.com, Jakarta. Restoran-restoran dengan menu halal yang didirikan oleh para migran Muslim di Inggris secara cepat menarik banyak minat warga non-muslim di negara ini untuk membuka pelayanan yang sama. Tampaknya, sekarang konversi serupa juga sedang berlangsung di dunia perbankan.

Al Rayan Bank, unit usaha syariah terbesar di Inggris berdasarkan aset, sekitar satu dari tiga pelanggannya adalah non-muslim. Jumlah nasabahnya meningkat dari satu berbanding delapan pada 2010. Hal yang sama juga terjadi di Bank London dan Timur Tengah (The Bank of London and The Middle East/BLME), mayoritas kliennya bukanlah Muslim.

Perbankan syariah menarik bagi nasabah non-muslim?

Ada beberapa alasan mengapa penduduk non-muslim di Inggris kini lebih tertarik terhadap produk-produk syariah, terutama di dunia perbankan. Antara lain, sebagian non-muslim tertarik pada bank syariah karena alasan bagi hasilnya.

Selain itu, menurut Simon Walker, Kepala Penjualan Unit Usaha Syariah Al Rayan, ketertarikan non-muslim terhadap perbankan Islam juga disebabkan keuangan syariah melarang pembiayaan investasi terhadap perusahaan yang produknya dilarang dalam Islam seperti alkohol dan semacamnya.

“Berbeda dengan Charity Bank dan Ecology Building Society atau bank non syariah lainnya, yang ikut pula membiayai bisnis-bisnis alkohol dan lain-lain,” papar Walker seperti dinukil dari the Economist.

Namun demikian, berdasar ulasan Moneyfacts, firma penyedia informasi keuangan global, ketertarikan nasabah non-muslim terhadap bank Islam, lebih dipengaruhi oleh keuntungan yang lebih besar. Sebab, dana yang disimpan selama dua tahun di Al Rayan akan dikembalikan lebih sebanyak 2,32 persen.

Besaran nisbah atau bagi hasil

Besarnya bagi hasil atau nisbah dalam pengembalian ini karena perbankan syariah di negara ‘The Three Lion’ tersebut tidak secara langsung mengikuti besaran suku bungan acuan dasar yang dikendalikan oleh Bank of England. Oleh karenanya, sekitar 90 persen penabung yang membuka rekening deposito jangka panjang dengan Al Rayan tahun lalu adalah non-muslim.

Bukan cuma itu, kecenderungan non-muslim pada inklusi syariah juga terjadi pada produk-produk penyaluran dana untuk kepemilikan rumah tinggal secara syariah. Kendati dikenakan biaya hampir dua kali lipat rata-rata pasar atau kurang lebih mencapai 4,24 persen dalam dua tahun pertama, 12 persen pelanggan pembelian rumah Al Rayan adalah non-muslim.

Namun, meski telah banyak dimanfaatkan oleh warga non-muslim, sebagian muslim justru tidak menyukai cara keuangan syariah modern dijalankan. Tarek El Diwany, seorang konsultan, menganggap bahwa produk keuangan syariah pada dasarnya sama dengan yang lain.

“Selama 1.400 tahun keuangan Islam telah didasarkan pada kepemilikan bersama dan pembagian keuntungan. Tetapi sebagian besar deposito syariah mengembalikannya mirip dengan bunga, bukan bagian dari keuntungan sebenarnya yang diperoleh. Praktek perbankan syariah lebih mirip sebagai ‘salinan berwajah kosong (blank-faced copy-catting)’,”ujar Tarek.

Berbanding terbalik dengan penilaian Tarek, sebagaimana Harian daring The Economist melaporkan, pada 2013 hingga 2017 aset Al Rayan hampir malah semakin bertambah sampai lima kali lipat.

Angka ini belum terhitung jika Al Rayan mampu mempengaruhi cara pandang orang yang tidak percaya ke perbankan syariah. Tentu, akan tumbuh lebih besar lagi. (*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Ahmad Kholil