Minggu, 24 Maret 2019
18 Rajab 1440 H
x

Menjadi Remaja yang tidak Biasa

Minggu, 17 Februari 2019 03:02
FOTO I Dok. howto.co.ke
Empat gaya hidup ‘F’ itu antara lain Fun (kesenangan), Food (makanan), Fashion (gaya berpakaian) dan Film.

Sharianews.com, Remaja Islam Masjid Daarul Mukhtar atau biasa disebut Rimdam kembali menggelar kajian untuk milenial pada Selasa malam (12/02). Kajian bertajuk “Bukan Remaja Biasa” ini diisi oleh Ustaz Ahmad Fadjrie, dengan harapan agar pemuda atau remaja saat ini tidak mudah terbawa arus pergaulan yang negatif.

Ustaz Fadjrie menyampaikan, menjadi remaja biasa sangatlah mudah karena hanya perlu menuruti hawa nafsu dengan menjerumuskan diri ke dalam pergaulan bebas. Tetapi ketika memilih menjadi remaja yang tidak biasa, maka akan butuh banyak pengorbanan, maka di sinilah nilai kehebatannya.

“Karena sekarang yang namanya generasi muda, para remaja yang biasa-biasa aja itu sangat mengkhawatirkan. Pada potret pemuda biasa-biasa aja ada empat ‘F’ yang menjadi gaya hidup mereka,” ujar Ustaz Fadjrie di Masjid Daarul Mukhtar, di Jakarta.

Empat gaya hidup ‘F’ itu antara lain Fun (kesenangan), Food (makanan), Fashion (gaya berpakaian) dan Film. Di mana melalui keempat gaya hidup tersebut, segala doktrin barat yang notabenenya ingin menghancurkan umat Islam, secara perlahan ditanamkan.

Menurutnya, keempat ini dapat menjadi kerusakan besar bagi remaja apabila tidak ada kendali di dalamnya. Sebagai contoh melalui film, saat ini tidak dapat dimungkiri banyak tayangan yang menunjukan konten negatif seperti pornografi, berpacaran, perundungan atau hal lain yang merupakan degradasi moral.

Secara tidak langsung sebuah kesalahan yang dihadirkan melalui film akan menjadi sebuah pembenaran bagi remaja karena akan dianggap suatu hal yang biasa atau wajar. Alhasil kesalahan yang sudah biasa tersebut akan mudah diikuti oleh mereka.

“Nah, ini yang saya khawatirkan dari gaya hidup yang akan mendatangkan kecemasan dari lima ‘S’ (Sex, Science, Sport, Song, Smoke). sebagai contoh dalam sebuah penelitian yang dilakukan JBDK, diantara 800 video porno asli Indonesia, pemerannya sekitar 90 persen adalah pelajar dan mahasiswa,” ungkap dia.

Kemudian dalam ceritanya, ia mengaku bertemu dengan seorang anak bersama orangtuanya, di mana mereka tengah bermain gawai. Diperkirakan usia anak tersebut adalah usia tingkat empat sekolah dasar.

Ketika ustaz tersebut melihat layar gawai sang anak, ia melihat tayangan pornografi dan hal tersebut lengah dari pengawasan orangtuanya yang berada dekat dengan sang anak.

Contoh lain dari perilaku remaja biasa yang menimbulkan kekhawatiran adalah sebuah kejadian yang terjadi tahun 2014 lalu. Bertempat di salah satu daerah yang konon agama Islam menjadi panutan dan cukup kuat di sana.

Ketika sejumlah petugas menggrebek sebuah rumah, didapati sekelompok remaja usia sekolah menengah pertama dan menengah atas (SMP/SMA) tengah bermain arisan.

Mirisnya, arisan disini sangat berbeda dari yang biasa. Penawaran yang diberikan bukan berupa uang atau emas melainkan sebuah hubungan layaknya suami-isteri (seks bebas).  

Dari gambaran tersebut dapat dinilai bahwa fenomena tersebut sudah menjangkit remaja Indonesia saat ini, di mana bagi sebagian besar orang adalah suatu kewajaran.

Sebaliknya, remaja yang masih terjaga justru dikatakan ketinggalan zaman oleh mereka. Namun, hakikatnya remaja yang tidak biasa inilah (terjaga) yang sangat beruntung di dunia maupun akhirat.

Sebab cintanya terpaut pada Allah dan RasulNya. Hal tersebut dapat membangkitkan jiwa alaminya dalam berbuat kebajikan serta mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat dan meninggalkan kerusakan yang dilarang agama.

Lebih lanjut Ustaz Fadjrie juga menyebutkan remaja yang tidak biasa adalah ia yang selalu berenergi atau bersemangat serta menularkan energi positifnya kepada orang lain. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo