Minggu, 24 Maret 2019
18 Rajab 1440 H
x
FOTO I Dok. Tribunnews
Berdasarkan catatan, sesungguhnya MUI pernah juga mengeluarkan fatwa terkait dengan HKI pada 2003 lalu, yang isinya juga mengharamkan tindakan pembajakan terhadap karya cipta. Lalu muncul lagi dalam munas tahun 2005.

Sharianews.com, JakartaReupload atau menggunakan hak cipta milik orang lain hari ini semakin jamak dilakukan oleh banyak orang. Baik melalui media audio maupun visual. Padahal fenomena ini disebut sangat merugikan seniman. Karena masuk kategori melanggar hak intelektual milik orang lain.

Wakil Ketua MUI bidang fatwa, Anwar Ibrahim, mengatakan bahwa MUI dalam fatwa terbarunya mengharamkan segala bentuk pelanggaran terhadap hak karya intelektual (HKI).

Hak cipta dipandang sebagai salah satu huquq maliyyah artinya hak kekayaan yang mendapat perlindungan hukum sebagaimana kekayaan. Lalu hak cipta dapat dijadikan obyek akad, baik akad pertukaran, komersial, maupun akad nonkomersial, serta dapat diwaqafkan dan diwariskan.” Ungkap Anwar.

Anwar menambahkan, setiap bentuk pelanggaran terhadap hak cipta, termasuk dan tidak terbatas pada menggunakan, mengungkapkan, membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, mengedarkan, menyerahkan, menyediakan, mengumumkan, memperbanyak, menjiplak, memalsu, membajak karya milik orang lain secara tanpa hak merupakan kezaliman dan hukumnya adalah haram.

Berdasarkan catatan, sesungguhnya MUI pernah juga mengeluarkan fatwa terkait dengan HKI pada 2003 lalu, yang isinya juga mengharamkan tindakan pembajakan terhadap karya cipta. Lalu muncul lagi dalam munas tahun 2005.

Menanggapi hal tersebut, sekretaris Komisi Fatwa MUI Hasanuddin menjelaskan bahwa fatwa MUI No. 1 Tahun 2003 hanya khusus mengatur tentang perlindungan terhadap Hak Cipta. Sedangkan dalam Fatwa MUI terbaru ini di dalamnya juga termasuk HKI jenis lainnya. Meliputi Paten, Merek, Varietas Tanaman, Rahasia Dagang, Desain Industri, dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.

"Terbitnya fatwa baru ini memang untuk menegaskan lagi fatwa MUI terdahulu, sekaligus menambah cakupan perlindungan terhadap jenis-jenis HKI yang lain," jelas Hasanuddin.

Selain itu, fatwa MUI ini juga terkesan lebih 'keras' dari hukum positif Indonesia yang mengatur soal HKI. Dalam UU Hak Cipta, misalnya, larangan tegas berlaku bagi mereka yang mengumumkan dan memperbanyak (termasuk mengedarkan dan menjual kepada umum) suatu karya cipta tanpa hak.

Sedangkan dalam fatwa MUI, perbuatan yang dilarang termasuk dan tidak terbatas pada menggunakan, mengungkapkan, membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, mengedarkan, menyerahkan, menyediakan, dan lain-lain.

Hasanuddin, menanggapi hal ini mengatakan berdasarkan fatwa bahkan perbuatan melindungi pembajakan termasuk dalam perbuatan yang dilarang. Dasarnya adalah Qawa'id Fiqh yang menyatakan bahwa segala yang lahir (timbul) dari sesuatu yang haram adalah haram.

Perlu diketahui munculnya fatwa haram pembajakan dikuatkan dengan dalil yaitu,

  1. Firman Allah SWT tentang larangan memakan harta orang lain secara batil (tanpa hak) dan larangan merugikan harta maupun hak orang lain, antara lain :

“Hai orang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janglah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. Al-Nisa’ [4]:29).

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”(QS. al Syu`ra[26]:183).

“..kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (QS. al-Baqarah[2]:279)

  1. Hadis-hadis Nabi berkenaan dengan harta kekayaan, antara lain:

“Barang siapa meninggalkan harta kekayaan, maka harta itu untuk ahli warisnya, dan barang siapa meninggalkan keluarga miskin, serahkan kepadaku” (H.R. Bukhari).

“Sesungguhnya darah jiwa dan hartamu adalah haram mulia, dilindungi…”(H.R. al-Tirmizi).

“Rasulullah saw. Menyampaikan khutbah kepada kami; sabdanya: Ketahuilah: tidak halal bagi seseorang sedikit pun dari harta saudaranya kecuali dengan kerelaan hatinya…`” (H.R. Ahmad).

  1. Hadis-hadis tentang larang berbuat zalim, antara lain :

“Hai para hamba-Ku! Sungguh Aku telah haramkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu sebagai hal yang diharamkan diantaramu; maka, janganlah kamu saling menzalimi…”(H.R Muslim).

“Muslim adalah saudara muslim yang lain; ia tidak boleh menzalimi dan menghinanya..”(H.R. Bukhari)

  1. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari ‘Ubadah bin Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Abbas, dan Malik dari Yahya :

“Tidak boleh membahayakan merugikan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan kerugikan orang lain.”

  1. Qawa’id fiqh :

“Bahaya kerugian harus dihilangkan.”

“Menghindarkan mafsadat didahulukan atas mendatangkan maslahat.”

“Segala sesuatu yang lahir timbul dari sesuatu yang haram adalah haram.”

“Tidak boleh melakukan perbuatan hukum atas menggunakan hak milik orang lain tanpa seizinnya.” (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Reporter: Munir Abdillah Editor: Achi Hartoyo