Jumat, 23 April 2021
12 Ramadan 1442 H
Home / Keuangan / Peningkatan Industri Asuransi Syariah Dipicu Prinsip Ta’awun
Foto dok. Pexels
Peningkatan industri asuransi syariah terlihat dari perkembangan bisnisnya

Sharianews.com, Jakarta - Setiap fasenya industri asuransi syariah selalu mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik. Peningkatan itu diantaranya dipicu oleh mekanisme asuransi syariah dengan prinsip ta’awun (tolong menolong).

Ketua Asosisasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Tatang Nurhidayat mengatakan peningkatan industri asuransi syariah terlihat dari perkembangan bisnisnya.

Semenjak kemunculan unit-unit syariah di perusahaan asuransi, persentase pertumbuhan industri asuransi syariah selalu lebih tinggi dari industri asuransi konvensional, bahkan di saat kondisi krisis sekalipun, seperti efek dari pandemi Covid-19 yang dirasakan saat ini di mana industri asuransi syariah masih bisa tumbuh sekitar 4 persen.

Peningkatan industri asuransi syariah selanjutnya juga dapat dilihat dari pelaku usaha yang dari tahun ke tahun selalu mengalami pertumbuhan. Artinya, minat investor untuk menggarap pasar asuransi syariah ini masih sangat tinggi.

Peningkatan tersebut, diterangkan Tatang, diantaranya dipicu oleh mekanisme asuransi syariah dengan prinsip ta’awun yang berorientasi untuk kemaslahatan dan kepentingan umat, bukan kepentingan individu atau perorangan.

Karena sifatnya kebersamaan dan tolong menolong itu, jadi kontribusi yang dikumpulkan peserta menjadi dana tabarru yang kepemilikannya adalah untuk peserta, bukan menjadi pendapatan perusahaan.

”Dari sisi pengusaha, spektrum bisnis asuransi syariah ini juga lebih luas, yang mana di industri asuransi syariah  produknya dapat dikembangkan lagi kepada sektor zakat, infak, wakaf dan sejenisnya yang tidak ada pada asuransi konvensional,” ujar dia, Rabu (24/02).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan dalam sejarahnya, perkembangannya industri asuransi syariah hingga saat ini di Indonesia mengalami tren yang cukup baik. Setidaknya ada beberapa fase dalam perjalanan industri ini.

Pertama yaitu pada tahun 1990 yang mana saat itu khusus untuk industri asuransi syariah belum memiliki regulasi apapun. Sekitar tahun 1994 salah satu perusahaan asuransi syariah hadir, dan industri ini hidup dengan regulasi seadanya.

Kemudian fase yang kedua, yaitu pada kisaran tahun 2000an, dimana pertama kali keluarnya fatwa DSN MUI terkait asuransi syariah, dan kemudian dilanjutkan oleh keluarnya regulasi-regulasi lainnya, termasuk diperbolehkannya untuk membuka unit syariah bagi perusahaan asuransi.

Pada 2014 dimulailah fase ketiga, yang mana undang-undang telah menyebutkan terkait asuransi syariah, sekaligus mengamanatkan akan adanya fase keempat, yaitu kewajiban spin off atau pemisahan unit syariah di tahun 2024 nanti.

Rep. Aldiansyah Nurrahman