Rabu, 5 Agustus 2020
16 Thu al-Hijjah 1441 H
Home / Keuangan / Peran Lembaga Keuangan Sosial Syariah Sebagai Alternatif Pendanaan UMKM Saat Pandemi
Foto dok. Freepik
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi yakni tumbuh negatif 3,8 persen di triwulan II tahun 2020, dengan perkiraan akan tetap mengalami kontraksi negatif 0,4 persen hingga 1 persen pada akhir tahun 2020.

Sharianews.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 jelas memberikan dampak terhadap aktifitas perkonomian. Tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi yakni tumbuh negatif 3,8 persen di triwulan II tahun 2020, dengan perkiraan akan tetap mengalami kontraksi negatif 0,4 persen hingga 1 persen pada akhir tahun 2020.

Kondisi perekonomian yang dialami oleh Indonesia pada saat pandemi Covid-19 berdampak tidak hanya kepada sektor korporasi namun juga pada saat yang sama pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Pemerintah menyadari keadaan yang dialami oleh pelaku UMKM yang jumlahnya saat ini ada sebanyak 6,4 juta unit usaha, dengan menyediakan dana untuk Pemulihan Ekonomi Nasional sebesar Rp123,46 triliun.

Namun, Sekretairs Kementerian Koperasi dan UMKM Rully Idnrawan menyatakan bahwa dana yang sudah tersalurkan untuk kepentingan pemulihan ekonomi sektor UMKM itu per 6 Juli 2020 baru mencapai Rp250,16 miliar atau baru setara dengan 0,20 persen dari pagu yang sudah disediakan.

Merespon hal tersebut, FEB Universitas Al Azhar Indonesia dan Bank Infaq mengadakan Zoominar Nasional, Rabu (8/7), untuk membahas mengenai bagaimana peran dan tantangan lembaga keuangan sosial Syariah yang bisa dijadikan sebagai terobosan untuk menjadi alternatif lembaga penyediaan dana yang bisa diakses dengan segera oleh pelaku UMKM.

Pada acara itu, Ketua Bank Infak Pusat Doni Chridono mengatakan bahwa Bank Infaq didirikan dengan tujuan untuk menjadi alternatif pendaaan bagi pelaku UMKM yang sulit sekali terjangkau oleh lembaga keuangan syariah dan konvensional.

Sejalan dengan itu, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saefuddin juga menambahkan agar kiranya hasil diskusi zoominar ini bisa ditindaklanjuti dengan langkah yang konkrit antara Universitas Al Azhar Indonesia dengan Lembaga Amil Zakat seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Bank Infaq sebagai salah satu model lembaga keuangan sosial syariah yang berbasis komunitas.

Saefuddin melihat hadirnya inovasi Bank Infaq sebagai terobosan lembaga keuangan non bank berbasis komunitas muslim di masjid maupun perumahan, diharapkan mampu berkontribusi untuk menyediakan akses pendanaan yang mudah dan cepat serta murah berdasarkan ketentuan syariat Islam yang memudahkan dan memberikan keberkahan kepada pengembangan UMKM di Indonesia.

“Bank Infaq diharapkan dapat menghindarkan pelaku UMKM mengambil jalan pintas dengan melakukan pinjaman modal ke sumber pendanaan rentenir yang berbunga tinggi,” jelas Saefuddin.

Untuk bisa mencapai tujuan agar pelaku UMKM tidak tejerat pada permodalan dengan bunga tinggi, tidak bisa hanya dilakukan oleh Bank Infaq sendirian.

Maka dari itu, menurut Saefuddin harus ada sinergi antara Baznas yang memiliki amanah untuk mengumpulkan dan memberdayakan dana zakat dan infaq dengan Bank Infaq serta didukung oleh lembaga perguruan tinggi, salah satunya adalah Universitas Al Azhar Indonesia. 

Sementara itu, Direktur  Pendistribusian dan Pendayagunaan Baznas Irfan Syauki Beik mengatakan bahwa Baznas sudah mendayagunakan zakat dan infak untuk keperluan pengembangan usaha yang dikelola mustahik.

“Setidaknya 30 persen dari mustahik yang menerima dana zakat untuk pengembangan usaha tersebut, berhasil menjadi muzaki,” imbuh Irfan.

Sejalan dengan itu, Dekan FEB Universitas Al Azhar Indonesia Kuncoro Hadi, memberikan motivasi bahwa sesuai dengan ajaran Islam, agar kiranya setiap kaum muslimin termotivasi untuk  mengalokasikan harta yang dimilikinya untuk kepentingan kaum muslimin lainnya melalui mekanisme yang genuine dimiliki oleh Islam yaitu melalui zakat, infaq dan wakaf.

“Universitas Al Azhar Indonesia juga menyediakan suatu market place digital syariah yaitu Tajeer Store yang bisa digunakan oleh pelaku UMKM dalam melakukan penjualan produk yang dijhasilkann kepada masyarakat,” kata Kuncoro.

Adapun Dewan Pengawas Bank Infaq Hendratmoko mengatakan Bank Infaq adalah model lembaga keuangan sosial berbasis Syariah, yang sumber pendanaanya berasal dari infaq. Untuk itu dalam pendanaan kepada UMKM, bank infaq tidak mengenakan adanya tambahan bagi hasil apapun. “Bank Infaq memiliki semangat agar kiranya pelaku UMKM yang memperoleh pendanaan juga mampu mengelola usahanya dan kemudian memberikan infaq,” terangnya.

Zoominar ini diikuti oleh hamper 100 orang peserta secara virtual yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, di antaranya selain dari DKI Jakarta juga ada dari Aceh, Sumatera Selatan dan Jawa Tengah dan dengan beragam latar belakang pekerjaan, mulai dari mahasiswa, akademisi, praktisi UMKM dan keuangan, serta masyarakat umum.

Rep. Aldiansyah Nurrahman