Sabtu, 6 Juni 2020
15 Shawwal 1441 H
Home / For Beginners / Perbedaan antara Pinjaman di Bank Syariah dengan Bank Konvensional
-
Idealnya bank syariah akad pembiayaannya harus didominasi oleh akad-akad berbasis bagi hasil, sehingga akan berdampak signifikan terhadap masyarakat.

Idealnya bank syariah akad pembiayaannya didominasi oleh akad-akad berbasis bagi hasil, sehingga akan berdampak signifikan terhadap masyarakat.

Sharianews.com, Jakarta. Pada pembiayaan di bank syariah terdapat beberapa akad yang biasa dipergunakan seperti akad jual beli, akad bagi hasil, akad sewa dan sebagainya. Sementara pada bank konvensional semua transaksi pinjaman diberlakukan berdasarkan basis bunga.

Sebagai informasi, saat ini pembiayaan di bank syariah masih didominasi oleh pembiayaan berbasis akad jual beli, dibandingan dengan akad bagi hasil.

“Hal inilah yang kemudian menjadikan masyarakat umum memberikan justifikasi bahwa bank syariah tidak ada bedanya dengan bank konvensional. Alias hanya dengan menempelkan label syariah semata,” ujar Dosen Perbankan Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Muhammad Nur Rianto Al Arif,  saat diwawancarai Sharianews.com, Senin (23/07).

Arif menambahkan idealnya bank syariah akad pembiayaannya harus didominasi oleh akad-akad berbasis bagi hasil, sehingga akan berdampak signifikan terhadap masyarakat.

Secara umum menurut Arif, aturan yang diterapkan untuk mendapatkan pembiayaan di bank syariah tidak jauh berbeda dengan bank konvensional. Namun biasanya ditambahkan dengan jenis usaha yang pembiayaannya tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah.

Menjawab sinisme masyarakat

Terkait opini yang beredar di masyarakat bahwa margin pada pembiayaan bank syariah lebih tinggi daripada bunga kredit di bank konvensional itu tidak sepenuhnya benar.

“Pembiayaan di bank syariah lebih tinggi dari pada bank konvensional tidak sepenuhnya benar, karena seringkali kita membandingkan bank syariah yang masih kecil dengan bank konvensional yang besar seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank Negeri Indonesia (BNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan sebagainya,” lanjutnya.

Menurut Arif, apabila dibandingkan dengan bank konvensional yang besar, maka margin di bank syariah memang terkesan menjadi kurang kompetitif. Namun , jika dibandingkan dengan ukuran bank yang sama, margin di bank syariah sama kompetitifnya dengan bank konvensional.

“Selain itu, ada faktor yang menyebabkan mengapa margin pembiayaan di bank syariah lebih tinggi dari pada bank konvensional. Yaitu dari komposisi dana pihak ketiga (DPK) yang diterima,” jelasnya.

Menurutnya pada bank syariah, DPK didominasi oleh deposito yang notebenenya memberikan margin pendanaan lebih tinggi daripada tabungan atau giro. Hal inilah yang menjadikan cost of fund atas DPK tinggi, sehingga hal ini berimplikasi pada tingginya margin pembiayaan di bank syariah.

Terkait  dengan hal ini, ujarnya bank syariah harus menemukan solusi untuk pembiayaan yang bermasalah dan secara umum meotde ini tidak berbeda jauh dengan bank konvensional.

“Menghindari pembiayaan bermasalah dapat dimulai dari awal proses pembiayaan sampai dengan penanganan apabila benar-benar terjadi pembiayaan bermasalah,” terangnya.

Arif menerangkan awal pembiayaan dimulai dari seleksi pembiayaan yang harus ketat. Segmen pembiayaan pun jangan hanya berkutat pada satu segmen saja. Hal ini untuk menghindari potensi pembiayaan bermasalah, apabila terjadi perubahan kondisi ekonomi.

“Sehingga bank syariah harus menyiapkan strategi untuk melakukn mitigasi risiko pembiayaan dengan rapid dan cermat,” tutupnya. *

Reporter : Agustina Permatasari Editor : Ahmad Kholil