Sabtu, 6 Juni 2020
15 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Pertumbuhan Bank Syariah Lamban karena Masih Ada Perbedaan Tafsir Soal Riba
FOTO | Dok. istimewa
Mayoritas umat Islam di Indonesia masih tidak terlalu tertarik dengan produk-produk berbau syariah karena penafsiran ulama mengenai perbankan syariah dan bunga (riba) masih berbeda.

Sharianews.com, Jakarta. Literasi industri syariah memang sedang menggeliat, namun gaungnya dirasa masih bergerak lamban, meski penduduk mayoritas di Indonesia memeluk agama Islam. Cendekiawan muslim, Prof Ayzumardi Azra mengungkapkan karakter masyarakat Indonesia mengenai industri  syariah.

"Saya kira itulah karakter dari Islam Indonesia yang fleksibel, jadi kalau kita lihat contoh bidang politik, umat Islam Indonesia tidak tertarik pada partai politik Islam misalnya, sama juga dengan perbankan syariah, saham perbankan syariah di sini (Indonesia) sangat kecil asetnya hanya mungkin 5 persen, karena apa, yaitu masyarakat Indonesia itu wasatiyah, masyarakat Indonesia tidak memahami kontek syariah secara sangat sempit,"ujarnya usai diskusi dan bedah buku Islam, Pancasila dan Deradikalisasi, di Megawati Institute, Jakarta, Senin (5/11/2018).

Azyumardi Azra juga mengungkapkan mengapa 87 persen umat Islam yang ada di Indonesia masih tidak terlalu tertarik dengan produk-produk yang berbau syariah. "Karena di Indonesia sendiri, penafsiran ulama mengenai perbankan syariah mengenai bunga (riba) masih berbeda, ada yang bilang bunga bank konvensional itu tidak riba karena kecil, kalau dia menindas banyak baru bisa kita bilang riba. Nah, jadi karena pemahaman flexibel itulah, penduduk Islam Indonesia wasatiyah seperti itu, itulah yang mengakibatkan produk syariah tidak terlalu laku di Indonesia," imbuhnya.

Memang, penduduk muslim Indonesia masih belum memandang penting peralihan dari bank konvensional ke bank syariah, padahal umat Islam mayoritas Indonesia sepakat tentang pentingnya menjahui sistem ekonomi riba atau mungkin jangan-jangan perbankan syariah dianggap tidak terlalu penting.

Menurut Azyumardi, hal tersebut bisa terjadi karena masih banyaknya perbedaan mengenai bunga riba. "Sebagai alternatif sih bagus saja, kalau ada orang Islam yang nyaman menyimpan uangnya di bank syariah, sih boleh-boleh saja.Tetapi jangan dianggap orang yang taruh uangnya di bank konvensional itu haram misalnya, jangan. Karena masih adanya perbedaan di ulama sendiri, kalau bunganya 6-7 persen setahun apakah riba atau tidak itu masih terjadi perbedaan di kalangan ulama,"paparnya.

Azyyumardi juga menyoroti adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama terhadap produk perbankan lain. Contoh dalam kartu kredit, menurut mantan Rektor UIN Syahid Jakarta ini, ada yang berpendapat jika bunganya dirasa tinggi atau memberatkan baru bisa dibilang riba.

"Kalau misalnya kartu kredit itu bunganya tinggi, interest rate kartu kredit sampai 48 persen setahun, nah itu bolehlah disebut sebagai riba. Tapi kalau 6 persen, bank itu kan harus bayar pegawainya, bikin gedung dan sebagainya,  yang itu diambil dari selisih modal atau bunga tersebut, interest-rate itu sekarang 6-7 persen jadi tidak banyak juga,"katanya.

Sementara terkait dengan UU Jaminan Produk Halal Nomor 33 Tahun 2014, yang baru akan diberlakukan pada akhir 2019, dirinya membandingkan dengan negara lain. "Ya, saya kira itu bagus karena di setiap produk ada label halalnya, karena di manapun di masyarakat lain, seperti di US produk halal orang Yahudi saja itu dikasih tanda ‘u khoser’ jadi kan kalau gitu bagus untuk membantu orang biar tahu, jadi tidak apa-apa,”pungkasnya. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Ahmad Kholil