Jumat, 5 Juni 2020
14 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Potensi Pertumbuhan Asuransi Syariah akan Terus Meningkat
-
Meski kesadaran masyarakat terhadap asuransi syariah makin tinggi, peningkatan kualitas produk dan layanan perlu terus ditingkatkan.

Meski kesadaran masyarakat terhadap asuransi syariah makin tinggi, peningkatan kualitas produk dan layanan perlu terus ditingkatkan.

Sharianews.com, Jakarta. Menurut pengamat asuransi syariah, yang juga anggota Badan Pleno Dewan Syariah Nasional, Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Endy M. Astiwara, potensi pertumbuhan asuransi syariah di Indonesia akan terus meningkat setiap tahunnya.

“Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terkait dengan pentingnya mempraktikkan nilai-nilai keagamaan dalam semua aspek kehidupan,”demikian lanjut Dosen Pascasarjana Institut Ilmu al Qu’an (IIQ), Jakarta, interkait potensi perkembangan asuransi syariah di Indonesia, Selasa di Jakarta (15/8/2018).

Senada dengan pemaparan Endy, berdasar Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2016 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi tentang aktivitas ekonomi syariah secara keseluruhan adalah 8,11 persen.

Rincian dari angka tersebut, literasi masyarakat mengenai asuransi syariah (takaful) mendapat skor 2,51 persen, lebih baik dibanding dengan pegadaian syariah yang baru mencatatkan literasinya sebesar  1,63 persen, dan lembaga keuangan non-bank syariah lainnya yang hanya sebesar 0,19 persen.

“Faktor utama meningkatnya kesadaran masyarat terhadap asuransi syariah ini, adalah edukasi yang telah dilakukan oleh berbagai pihak, seperti DSN-MUI, KNKS, dan juga lembaga OJK yang khususnya menangani asuransi syariah,”terangnya.

Faktor lainnya adalah adanya kesadaran masyarakat mengenai segala resiko. Mulai dari resiko pendidikan, keselamatan, kesehatan, jaminan hari tua, dan semacamnya.

“Sebagai hasilnya, masyarakat yang ingin berkomitmen pada syariah, akhirnya lebih berinklusi atau memilih penanggulangannya dengan cara menjaminkannya ke pihak asuransi syariah,” ungkap Endy kepada sharianews.com.

Selaras dengan penjelasan Endy, masih merujuk pada survei OJK di tahun 2016, indeks inklusi asuransi syariah (takaful) beridiri di angka 1,92 persen, lebih besar dari pada pegadaian syariah yang baru sebesar 0,71 persen dan lembaga keuangan non bank Islam lainnya yang hanya sebanyak 0,24 persen.

Sedangkan bersamaan dengan masih banyaknya angka kecelakaan dan jumlah harapan hidup, menurutnya, hal ini tidak terkait langsung dengan faktor pendorong melonjaknya perkembangan asuransi di Indonesia, khususnya syariah.

Meski keinginan masyarakat terhadap asuransi syariah ini semakin tinggi, Endy berharap, ke depannya pihak perusahaan terkait bisa menjalankan tugasnya sesuai dengan peraturan, baik dalam pelayanan, maupun kewajiban yang harus dikeluarkan kepada polis (pengguna asuransi), dan lain-lainnya.     

Siasat meraih potensi asuransi syariah

Untuk meraih potensi besar di sektor industri asuransi syariah, Endy menuturkan, pertama yang harus dilakukan ialah penambahan modal, terlebih di tingkat kantor cabang dan divisi perusahaan asuransi syariah.

Langkah berikutnya berupaya keras mendorong kapabilitas para pelaku usaha industri keuangan non-bank, baik pemilik, pegawai, maupun manajemen perusahaan asuransi syariah.

“Edukasi untuk meningkatkan kapabilis ini bisa dengan training yang berkelanjutan, sosialisasi tentang apa dan bagaimana asuransi syariah itu harus dijalankan, dan sebagainya,”imbuhnya.

Selain itu, setifikasi profesi pelaku bisnisnya juga harus diupayakan, supaya impelementasi atau praktik asuransi syariah di lapangan sesuai dengan prinsip dan nilai keislaman. Juga perlu menguatkan sistem kerja yang ada, khususnya di internal perusahaan, agar penerapan dan pengembangan industri keuangan non-bank ini terukur dan terarah.

Agar bisa menciptakan inovasi, upaya lanjutannya adalah mengembangkan keterampilan dan keahlian pada pelaku industri ini di bidang pemasaran dan produk-produk asuransi syariah, baik yang sudah maupun yang akan dibuat.

"elama ini, upaya-upaya tersebut sudah dilakukan, tetapi masih belum optimal. Oleh karenanya, agar sejalan dengan potensi besarnya, cara-cara itu perlu dikuatkan kembali. Sebab, jika hal ini tidak dilakukan, maka hasil yang didapatkan, tidak akan sebesar potensi yang dimiliki. Ini yang sangat disayangkan,"katanya. (*)

 

 

Reporter: Emha S. Asror Editor:Ahmad Kholil