Sabtu, 27 Februari 2021
16 Rajab 1442 H
Home / Keuangan / Prinsip Ta’awun dalam Asuransi Syariah Berpengaruh dalam Perputaran Roda Ekonomi
Cendekiawan Muslim KH. Didin Hafidhuddin - Dok.MUI
Apalagi dalam kegiatan asuransi syariah yang memiliki prinsip tabarru

Sharianews.com, Jakarta - Cendekiawan Muslim KH. Didin Hafidhuddin menjelaskan bahwa setiap kegiatan ekonomi dalam Islam, selalu melibatkan unsur ta’awun yang sangat tinggi. Apalagi dalam kegiatan asuransi syariah yang memiliki prinsip tabarru.

Oleh karena itu, prinsip asuransi syariah ini adalah sistem ekonomi yang paling cocok dikembangkan di Indonesia, apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19.

”Dari mekanisme asuransi syariah ini ada sinergi untuk berta’awun dengan risiko yang ditanggung bersama-sama. Artinya, unsur feodalistik itu sangat jauh dari prinsip asuransi syariah. Prinsip ta’awaun itu yaitu konsep tangan diatas yang selalu memberi. Konsep seperti ini akan memberikan kekuatan untuk jiwa dan rohani,” ujarnya, Senin (25/01).

Konsep memberi itu adalah sumber income bagi orang yang menyadari. Jangan disangka bahwa apa yang diberikan kepada orang lain dalam berta’awun  itu berarti harta hilang. Bahkan itu menjadi modal untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Hal yang seperti itu ada pada prinsip asuransi syariah, karena semangat berbaginya sangat tinggi sekali.

”Dari prinsip ekonomi Islam seperti ini, maka roda ekonomi itu diputar sedemikian rupa, karena harta itu tidak terakumulasi oleh seseorang, langsung diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Jadi asuransi syariah itu sudah tepat sekali untuk mendukung roda perekonomian. Untuk itu harus didukung dan dikuatkan oleh kita semua,” ujar Mantan Ketua Badan Amil Zakat Nasional ini.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Erwin Noekman berharap apa yang disampaikan KH. Didin tidak hanya menjadi teori dalam sistem perekenomian bangsa, namun juga dapat diwujudkan di tengah-tengah masyarakat, termasuk dalam menjalankan prinsip asuransi syariah.

”Dalam asuransi syariah, tujuan peserta bukan lagi berharap untuk mengambil manfaat dari klaim. Tapi memberikan manfaat untuk orang lain.,yaitu dengan konsep berbagi dan memberi,” pungkas Erwin.

Rep. Aldiansyah Nurrahman