Sabtu, 6 Juni 2020
15 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Prospek Pasar Modal Syariah Cukup Cerah di 2019
FOTO | Dok. istimewa
Sektor pasar modal syariah prospeknya cukup cerah, karena ekosistem yang dibangun sudah cukup, sehingga instrumen seperti sukuk maupun efek syariah bisa bertumbuh.

Sharianews.com, Jakarta ~ Bagaimana prospek pasar modal syariah di 2019? Menurut Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, tahun 2019 merupakan saat di mana likuiditas akan menjadi ketat.

Kerena itu ia menyarankan, industri keuangan syariah agar menghindari utang, karena hal tersebut dikhawatirkan dapat meningkatkan pembiayaan tidak lancar (NPF-non-performing finance).

Meski begitu menurutnya, sektor pasar modal syariah prospeknya cukup cerah, karena ekosistem yang dibangun sudah cukup, sehingga instrumen seperti sukuk maupun efek syariah bisa bertumbuh.

"Instrumen syariah ini cocok karena rasio utang harus kecil sehingga portofolionya lebih terjaga sehat. Ingat semua peradaban jatuh karena utang, tidak terkecuali Amerika Serikat,"kata Budi saat pemaparan Outlook Pasar Modal Syariah 2019 di Jakarta, pekan ini.

Meski demikian, ia menilai pertumbuhan ekonomi akan baik jika utang menjadi produktif. Ia mencontohkan apa yang terjadi di Bahana, yang menurutnya mencoba menerapkan hukum ekonomi Nabi Yusuf yang mengedepankan investasi stabil dan pemanfaatan utang yang lebih produktif.

Didominasi sukuk pemerintah

Sementara menurut Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, prospek pasar modal syariah di Indonesia masih akan didominasi oleh sukuk pemerintah. Sebaliknya, bisa jadi pasar modal syariah belum akan menerbitkan sukuk global untuk korporasi di Indonesia.

Pihaknya memprediksi pemerintah masih akan mendominasi penerbitan sukuk di tahun 2019. Selain itu, ia Handy juga memprediksi di tahun politik ini atau di awal semester pertama nanti, penerbitan obligasi korporasi akan melambat, seperti tahun-tahun politik sebelumnya.

"Kami perkirakan penerbitan sukuk akan relatif sama dengan tahun 2018 untuk memenuhi kebutuhan refinancing seiring dengan masih rendahnya ekspektasi pertumbuhan ekonomi domestik tahun 2019," kata Handy.

Handy mengatakan, saat ini total penerbitan sukuk dibandingkan total penerbitan obligasi konvensional ada di kisaran 22-30 persen. Sementara, kebutuhan pendanaan ulang dari sukuk diperkirakan sekitar Rp 3,4 triliun. Sedangkan obligasi konvensional  mencapai Rp 86 triliun.

Sementara Adiwarman Karim, Founding Partner Karim Consulting Indonesia dalam paparannya menyoroti besaran kepemilikan oblikasi pemerintah yang masih didominasi oleh investor  asing hingga 40 persen. Akibatnya, menurutnya, perekonomian akan sensitive, karena menjelang dan saat pilpres biasanya dana-dana asing itu ditarik.

Adiwarman menilai, banyaknya proyek infrastruktur yang dibiayai bank akan dibiayai ulang melalui pasar modal yaitu penerbitan sukuk. Hal ini didorong oleh mulai selesainya periode kelonggaran Interest During Construction (IDC) dari bank.

Karena itu menurutnya pasar modal syariah bisa berkembang, jika bisa menangkap dana-dana yang keluar, baik dengan penerbitan sukuk maupun saham syariah, karena biasanya saat  Pilpres dana-dana dari DPK akan turun, karena dipindahkan ke pasar modal. Menurutnya, inilah salah satu yang membuat pertumbuhan pasar modal syariah bisa tinggi di 2019. (*)

 

Ahmad Kholil