Minggu, 29 Maret 2020
05 Sha‘ban 1441 H
Home / Lifestyle / Selain Sup Kelelawar Wuhan, Kuliner Ektsrem Kodok juga Diragukan Kehalalannya
FOTO I Dok. pexel.com
Penggemar kuliner daging kodok atau swike ini juga tidak sedikit, bahkan sebagian di antaranya adalah umat Muslim

Sharianews.com, Sup kelelawar merupakan makanan yang populer di Wuhan. Merebaknya wabah coronavirus di Wuhan, diduga berasal dari kuliner ekstrem ini. Namun tahukah Anda bahwa di Indonesia juga banyak terdapat kuliner ekstrem yang diragukan kehalalannya. Salah satunya adalah daging kodok/swike.

Seringkali dianggap sebagai kuliner ekstrem, daging kodok/swike ternyata banyak dijajakan di beberapa daerah di Indonesia seperti Purwodadi, Solo, Semarang, Jakarta, Surabaya dan beberapa daerah lainnya yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Penggemar kuliner ini juga tidak sedikit, bahkan sebagian di antaranya adalah umat Muslim.

Baca juga: Tujuh Pilihan Kuliner Halal saat Traveling ke Jepang

Dari sejarahnya, kuliner ini diyakini berasal dari pengaruh masakan Tionghoa yang masuk ke Indonesia. Tekstur daging kodok dianggap mirip dengan daging ayam. Bagi sebagian besar orang di Pulau Jawa, derah Purwodadi sudah sejak lama dianggap sebagai surganya "Kota Swike".

Swike merupakan kuliner khas yang terbuat dari paha kodok. Hidangan ini dapat ditemukan dalam bentuk sup, digoreng kering, atau ditumis dengan bumbu bawang putih, jahe, dan tauco, garam, dan lada. Kuliner ini dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng dan daun seledri di atasnya, swike biasanya disajikan dengan nasi putih.

Baca juga: Virus Corona dan Larangan Islam Mengonsumsi Binatang yang Menjijikkan

Lantas, bagaimana sebenarnya hukum mengonsumsi daging olahan kodok/swike? Dilansir dari halalcorner, menurut hasil rapat Komisi Fatwa MUI yang diselenggarakan tanggal 12 November 1984, MUI mengimbau agar daging katak sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi mengingat adanya perbedaan pandangan para ulama. MUI berpendapat tidak menghalalkan daging kodok. Sementara itu, membudidayakan kodok untuk diambil manfaatnya, misalnya untuk penelitian tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Pandangan pengamat terkait daging kodok/swike

Menurut Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Irfan Syauqi Beik mengonsumsi daging kodok/swike hukumnya haram. “Jadi, kalau menurut madzab Imam Syafii dan jumhur ulama, mayoritas mengharamkan kodok/swike karena hidup di dua alam, itu salah satu alasannya. Meskipun ada pendapat madzab Imam Maliki yang membolehkan. Nah, kalau saya berpendapat bahwa memakan kodok itu diharamkan,” tutur Irfan yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CI-BEST) IPB.

Menurut Irfan, sebaiknya umat Muslim menghindari untuk mengonsumsi sesuatu yang tidak jelas, meskipun dalam nash tidak ada alasan eksplisit yang mengharamkan kodok secara tertulis. Hal ini disebabkan para ulama memiliki pertimbangan-pertimbangan tersendiri dalam mengharamkan kodok/swike.

Irfan juga menambahkan, bahwa di dalam hadis segala sesuatu yang dinyatakan halal maupun yang haram sudah jelas, di antara keduanya tedapat perkara yang subhat (meragukan). Umat Muslim diperintahkan untuk berhati-hati dengan perkara yang subhat. Kehati-hatian dalam mengonsumsi makanan menjadi sangat penting karena implikasinya sangat panjang. Jika umat Muslim sembarangan dalam mengonsumsi makanan yang mengandung barang haram, maka boleh jadi doanya tidak akan dikabulkan, ibadahnya tidak akan diterima dan keberkahan akan dicabut dalam kehidupannya.

“Jadi, saya berpendapat untuk lebih hati-hati untuk mengonsumsi makanan, dan menurut saya mengonsumsi daging kodok hukumnya haram.” tutup Irfan. (*)

Achi Hartoyo