Jumat, 5 Juni 2020
14 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Semester II 2018, Bank Syariah harus Yakin Bisa Bersaing
-
Intinya bank syariah harus bisa meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa bank syariah bisa bersaing.

Intinya bank syariah harus bisa meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa bank syariah bisa bersaing.

Sharianews.com, Jakarta. Intinya, para praktisi perbankan syariah harus bisa meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa bank syariah bisa bersaing. Terlebih di semester ke-2  di 2018 ini. Mengingat ke dapan dunia perbankan syariah sedikit banyak akan terkait erat dengan perkembangan pasar keuangan secara global.

Demikian dikatakan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Herbudi Setio Tomo, kepada sharianews.com di Jakarta.

Lebih lanjut, ia mengatakan, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang tergolong rasional. Tidak bisa hanya melalui jalur agama saja. Itu mengapa perlu perjuangan dan kerja keras untuk menaikkan share market perbankan syariah di Indonesia.  

Menurutnya, tingkat market share bank syariah saat ini sudah cukup bagus. Kurang lebih 6 persen dari market share perbankan nasional. Intinya bank syariah harus bisa meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa bank syariah bisa bersaing.

“Tetapi itu tetap menjadi cambuk bagi bank syariah untuk memperbaiki diri dari segi pelayanan, produk, termasuk dalam pemanfaatan teknologi digital, supaya bisa bersaing dengan bank konvensional,”ujar Tomo.

Menurut Tomo, masyarakat saat ini berpikikir bahwa bank konvensional telah memiliki cabang yang banyak, sementara jumlah bank syariah bisa dihitung dengan jari. Namun, meski dengan kekuatan modal yang masih terbatas, bank syariah bisa tetap jalan.“Ini sudah bagus, tidak perlu ada yang dikhawatirkan,” jelasnya.

Ia pun berandai-andai. Ada salah satu cara untuk membuat popularitas bank syariah melonjak. Salah satunya, misalnya jika pemerintah mau mengkonversi salah satu bank konvensional menjadi bank syariah.

Menurutnya, langkah tersebut bisa saja dilakukan.“Apalagi sekarang pemerintah sudah mengeluarkan Sukuk. Itu sudah bagus. Meski tentu harus bersabar dan terus bergerak meningkatkan  share market bank syariah. Sebab, saat ini modal dan cabang bank syariah masih terbatas,” katanya.

Perkembangan ekonomi global

Sementara itu, menanggapi perkembangan kinerja positif perbankan Islam semester ke-1 di 2018, ia berharap perbankan Islam bisa tetap tumbuh positif di semester ke-2 di 2018, meskipun menurutnya, dunia perbankan Islam di semester ke-2 akan terkait erat dengan perkembangan pasar global.

“Dalam kaitan ini pula Bank Indonesia (BI) baru saja menaikan suku bunganya,” ujar Herbudi Setio Tomo.

Lebih lanjut, ia mengatakan, langkah BI tersebut dilakukan sebagai antisipasi terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), oleh bank sentral Amerika Serikat.

“Jika suku bunga bank Amerika Serikat naik, dari 2 persen menjadi 3 atau 3,5 persen, maka dollar USD yang ada di Indonesia akan lari ke Amerika Serikat,”jelas Tomo seraya menjelaskan jika dollar USD  kembali ke Amerika, berarti kursnya akan terdepresiasi. Rupiah bisa terus turun mencapai level Rp 15 ribu.

“Untuk mengimbangi ini maka BI menaikan suku bunga. Tujuannya, untuk menahan orang agar tidak melarikan dollar USD-nya keluar. Langkah ini otomatis akan diikuti oleh bank konvensional dengan menaikan suku bunga,”ungkap Tomo.

Dosen Perbankan Syariah S1 dan S2 Universitas Trisakti ini menerangkan, jika bank konvensional menaikan suku bunga, begitu juga bank syariah ikut menaikan tingkat bagi hasilnya.

“Misalnya ini tidak dinaikkan, maka pemegang deposito di bank syariah akan pindah ke bank konvensional. Ini adalah persoalan mencari untung. Rasionalitas bisnis, ya seperti itu,”ujar Tomo.

Karenanya, bank syariah juga menaikan pola bagi hasilnya, agar nasabah tidak pindah. Jika demikian, maka secara alamiah ini akan diikuti dengan pembiayaannya yang juga naik.

Efeknya, banyak bank akan merasa dihantui pembiayaan bermasalah yang meningkat. Karenanya, ini mesti diantisipasi agar tidak meningkatkan pembiayaan dan memicu kenaikan kredit bermasalah.

“Itu maka perlu dicari solusi yang aman,”papar Tomo. Misalnya dengan mencari orang-orang yang masih bisa melakukan pembayaran, yaitu  karyawan BUMN. Juga mereka yang memiliki kontrak dengan pemerintah. (*)

Reporter : Aldiansyah Nurrahaman Editor : Ahmad Kholil