Jumat, 5 Juni 2020
14 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Tiga Bank Syariah Diprediksi Melakukan IPO
-
Tiga bank syariah yang akan melantai di bursa saham, mesti terus menjaga kinerja rasio keuangannya, karena hal tersebut sangat berkorelasi terhadap peningkatan maupun penurunan dari harga saham.

Tiga bank syariah yang akan melantai di bursa saham, mesti terus menjaga kinerja rasio keuangannya, karena hal tersebut berkorelasi terhadap peningkatan maupun penurunan dari harga saham.

Sharianews.com, Jakarta. Tiga bank syariah baru, sampai pada 2019 nanti, diprediksi akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau melakukan initial public offering (IPO).

Adalah Wakil Ketua Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional (DSN), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Adiwarman Azwar Karim yang mengatakan hal tersebut. Menurutnya, tiga bank syariah yang akan melakukan IPO itu adalah Bank Syariah Mandiri (BSM), BNI Syariah, dan Bank Muamalat Indonesia (BMI).

“BSM diprediksi akan melakukan IPO paling cepat pada semester II,  di 2018 atau paling lambat semester dua di 2019,” jelas Adiwarman, di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Lalu, BNI Syariah diprediksi akan melakukan IPO pada 2019 serta BMI. Sehingga, total diperkirakan sudah ada enam bank syariah yang sudah IPO pada 2019.

“Sebelumnya, tiga bank yang sudah melakukan IPO yaitu Bank BRI Syariah (BRIS) dan Bank Tabungan Pensiun Nasional Syariah (BTPN Syariah) pada semester I 2018 serta Bank Panin Dubai Syariah yang melakukan IPO pada 2014,” paparnya.

Bank

Data Rasio Perbankan Per Desember 2017

Nominal Price Ratio (NPR)

Calculated Price Ratio (CPR)

Premium/Par/Discount Price

Over Price (+)/Under Price (-)

ROA

ROE

BOPO

BSM*

0,59%

5,71%

94,44%

N/A

1,19

N/A

N/A

BNIS*

1,31%

11,42%

87,62%

N/A

3,11

N/A

N/A

BMI*

0,11%

0,87%

97,68%

N/A

0,33

N/A

N/A

*) Prediksi IPO 2018 – 2019 | Data : Karim Consulting Indonesia

Adiwarman dalam Karim Consulting Indonesia, menyatakan berdasarkan analisis yang dibuatnya,  BSM memiliki Calculated Price (CP) sebesar 1,19x dan BNI Syariah sebesar 3,11x.

“Untuk BSM, jika diasumsikan nilai nominal sahamnya adalah Rp 500, dengan CP sebesar 1,19x, maka harga saham yang ditawarkan kurang lebih sebesar Rp 595 saat IPO,” ujar Adiwarman.

Sedangkan untuk BNIS, harga saham yang ditawarkan kurang lebih sebesar Rp1.555 saat IPO, dengan menggunakan asumsi nilai nominal yang sama seperti BSM. “Angka tersebut merupakan angka minimal, bila kedua bank ingin masuk kelompok Par (discount price),”terangnya.

Sementara, BMI memiliki CP sebesar 0,33x. Jika diasumsikan dengan nilai nominal saham sama dengan saham yang beredar saat ini, yaitu Rp 1 ribu. Dengan CP sebesar itu, maka harga saham yang ditawarkan kurang lebih sebesar Rp 330 saat IPO.

Angka tersebut dinilai sangat menarik bagi investor, karena berada jauh di bawah dari Par (discount price), namun demikian investor akan memperhitungkan Non Performing Financing (NPF) teraktual dan prospek BMI.

“Untuk mendapatkan kepercayaan dari investor, selain rasio Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE) dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), BMI juga harus memperbaiki kinerja NPF-nya,” ungkap Adiwarman.

Kedepannya, disarankan BSM dan BNIS, dan juga BMI yang berencana melakukan IPO, untuk terus menjaga kinerja rasio keuangannya. Karena jika berkaca dari apa yang dialami Bank Panin Dubai Syariah, kinerja rasio keuangan terlihat sangat berkorelasi terhadap peningkatan maupun penurunan dari harga saham. (*)

 

Reporter : Aldiansyah Nurrahaman Editor : Ahmad Kholil