Minggu, 16 Juni 2019
13 Shawwal 1440 H
Home / Zakat insight / Tren Baru, Bayar Zakat Secara Online
FOTO I Dok. Sharianews
Zakat online sendiri merupakan proses pembayaran zakat yang dilakukan melalui sistem digital, di mana saat melakukan pembayaran zakat, muzaki (orang yang menunaikan zakat) tidak langsung bertemu dengan amil zakat.

Sharianews.com, Seiring dengan perkembangan teknologi saat ini, membuat hampir setiap aktivitas manusia mengalami pergeseran dari cara konvensional menjadi cara yang lebih praktis dengan memanfaatkan platform digital. Begitu juga dengan munculnya tren dalam membayar zakat melalui sistem daring.

Tren ini muncul sebagai alternatif bagi masyarakat yang ingin menunaikan zakat ataupun memberikan donasi. Seperti yang kita ketahui, potensi zakat di Indonesia mencapai sekitar 217 triliun, tetapi realisasinya baru terkumpul sekitar 6 triliun per tahun. Dengan adanya tren zakat secara daring diharapkan dapat memaksimalkan potensi tersebut dengan cara pembayaran yang mudah, cepat dan praktis.

Zakat online sendiri merupakan proses pembayaran zakat yang dilakukan melalui sistem digital, di mana saat melakukan pembayaran zakat, muzaki (orang yang menunaikan zakat) tidak langsung bertemu dengan amil zakat.

Sistem zakat online ini merupakan bentuk adaptasi bagi para wajib zakat dalam rangka perkembangan zaman, di mana dengan bantuan teknologi masyarakat mendapatkan berbagai kemudahan dan dapat meraih pangsa pasar yang lebih luas.

Pelayanan dalam pembayaran zakat pun dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain menggunakan internet banking, virtual account, e-money, dan juga melalui platform e-commerce. Sejumlah platfrom e-commerce di Indonesia telah bekerja sama dengan pengelola zakat untuk menyediakan fitur pembayaran zakat online.

Namun, pembayaran zakat melalui sistem online ini memunculkan respon yang berbeda dikalangan masyarakat. Hukum tentang boleh tidaknya menunaikan zakat melalui online masih menjadi hal yang diperdebatkan. Pada dasarnya ijab qabul bukanlah salah satu dari rukun zakat dan juga syarat sah zakat, hal ini berbeda dengan jual beli, wakaf, gadai dan sebagainya.

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam fiqhuzzakat-nya berpendapat bahwa seorang muzakki tidak harus menyatakan secara eksplisit kepada mustahik bahwa dana yang diberikan adalah zakat. Oleh karenanya, muzakki dapat menyerahkan zakatnya secara online kepada lembaga amil zakat tanpa menyatakan kepada mustahik bahwa uang yang ia serahkan adalah zakat.

Menurut survey yang dilakukan penghimpun donasi Rumah Zakat, pergeseran tren dalam hal pembayaran zakat telah terjadi sejak tahun 2015, di mana masyarakat lebih memilih menunaikan zakatnya secara online dibandingankan dengan cara konvensional.

Pada tahun 2016, Rumah Zakat berhasil memperoleh 75 persen dari Rp230 miliar dana zakat yang diperoleh dengan pembayaran via online. Selaras dengan hal tersebut, Direktur Utama Baznas Arifin Purwakananta mengatakan, pembayaran zakat saat ini telah terjadi pergeseran dari cara yang bersifat konvensional menjadi online, ini menunjukkan kecenderungan perilaku konsumen saat ini.

Pada tahun 2016, masyarakat yang membayar zakat secara online hanya 1 persen, tetapi di tahun 2017 pertumbuhannya meningkat hingga 12 persen. Sementara pada tahun 2020 pihaknya memprediksi masyarakat yang menunaikan zakat secara online tumbuh hingga 50 persen mengingat perkembangan digital saat ini sangatlah signifikan.

Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa platform penyedia layanan membayar zakat melalui sistem online, salah satunya adalah Kitabisa.com. Co-Founder dan CEO Kitabisa.com, M. Alfatih Timur mengatakan fitur zakat online di situs Kitabisa.com telah ada sejak tahun 2016, jenis zakat yang dapat dibayarkan secara online melalui  platform Kitabisa.com adalah zakat profesi dan zakat maal.

Menurutnya, perkembangan zakat online di situs Kitabisa.com cukup baik, data pada kuartal pertama yaitu januari hingga april 2017 jumlah zakat yang terkumpul Rp1.413.644.854. pada periode yang sama di tahun 2018 naik menjadi Rp2.615.215.209.

Sementara itu, jumlah muzaki pada periode tersebut meningkat dari 3.640 orang menjadi 6.540 orang. Jika ditotal dari januari 2016 hingga aplil 2018, jumlahnya mencapai 16.292 orang.

Beberapa situs lembaga pengelola zakat di Indonesia juga telah memberikan opsi untuk melakukan zakat secara online sehinga dapat memudahkan masyarakat dalam membayar zakat, diantaranya adalah Dompet Dhuafa, yang menyediakan situs zakat.or.id bagi masyarakat yang ingin memberikan donasi atau zakat secara online, pembayaran disediakan dalam beberapa metode mulai dari transfer bank hingga potong pulsa ponsel.

Rumah Zakat, dalam situs Rumah Zakat terdapat opsi pembayara via online, di mana disediakan fitur kalkulator zakat untuk memudahkan dalam membayar zakat, selanjutnya akan diberikan konfirmasi atas besaran jumlah zakat yang diberikan dengan mengisi informasi di situs tersebut.

Badan Amil Zakal Nasional, dukungan layanan online yang dimiliki Baznas cukup beragam dengan opsi pembayaran yang beragam, Baznas juga meluncurkan aplikasi berbasis android untuk memudahkan masyarakan membayar zakat.

Meskipun terlihat mudah dan praktis, hendaknya kita juga perlu waspada ketika berniat menyalurkan zakat melalui platform online, setidaknya ada lima hal yang perlu diperhatikan saat ingin menyalurkan zakat secara online, yaitu (1) Kenali lembaga amil zakat, pastikan lembaga amil zakat tersebut terdaftar di BAZNAS dan mempunyai izin dari Kementerian Agama.

(2) Keaslian mobile app, kita dapat membaca ulasan-ulasan tentang aplikasi tersebut dari para pengguna sebelumnya, sehingga kita dapat mengambil kesimpulan apakah app tersebut cukup terpercaya untuk menyalurkan zakat secara online;

(3) Cek track record penyedia layanan zakat online, caranya kita dapat melakukan riset kecil di internet dengan mencari berita berkaitan dengan penyedia layanan zakat online yang ingin kita gunakan;

(4) Tidak menggunakan rekening pribadi, rekening yang mengatasnakaman lembaga/institusi akan lebih terpercaya daripada rekening atasnama pribadi; (5) Meminta bukti penyaluran zakat.(*)

*Mahasiswa Program PascaTimur Tengah dan Islam UI

oleh: Labib Nubahai