Selasa, 7 Juli 2020
17 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Lifestyle / Wabah Covid-19, Pemerintah Minta Masyarakat Lakukan Penyesuaian Baru, Termasuk Beribadah
Foto dok. Kemenag
Pemerintah ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa pandemi global Covid-19 yang telah melanda dunia termasuk Indonesia bukanlah suatu hal yang dapat dilalui dalam waktu singkat.

Sharianews.com, Jakarta - Pemerintah ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa pandemi global Covid-19 yang telah melanda dunia termasuk Indonesia bukanlah suatu hal yang dapat dilalui dalam waktu singkat.

Demikian disampaikan Juru Bicara Kementerian Agama (Kemenag) Oman Fathurahman. Untuk itu, masyarakat perlu melakukan penyesuaian dan pembiasaan baru dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari agar tetap aman dari wabah yang tengah melanda. 

“Pandemi ini kan wabah, yang saya selalu menyampaikan, dalam lintasan sejarah ini kan sebagai sesuatu yang terus berulang atau siklus. Kalau kita melihat sejarah, (pandemi) itu tidak ada yang sebentar memang, sebulan, dua bulan, itu bahkan ada yang sampai setahun, bahkan lebih gitu ya,” papar Filolog UIN  Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Sehingga, dalam laman resmi Kemenag, menurutnya tidak mungkin terus-terusan menghindari situasi kehidupan bermasyarakat. Ketika sebagai bangsa memiliki kehidupan sosial, aktivitas, tidak mungkin dihindari karena alasan ada wabah, termasuk kegiatan keagamaan.

Di saat seperti ini, negara perlu hadir untuk memberikan panduan dalam beraktivitas di masa pandemi. “Masyarakat perlu panduan kan untuk hidup membiasakan protokol kesehatan ini dalam kegiatan keagamaannya. Kita menciptakan budaya baru, yang sebelum ini agak kurang terbiasa untuk dilakukan,” tutur Oman.

Misalnya, Kemenag dengan telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 tahun 2020 tentang Panduan Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid di Masa Pandemi bertujuan untuk membantu umat beragama agar dapat beribadah dan tetap aman dari risiko persebaran Covid-19. 

“Oleh karenanya, tujuannya adalah bagaimana masyarakat, umat beragama khususnya bisa tetap melakukan kegiatan keagamaannya, tapi pada saat yang sama itu bukan berarti kelonggaran protokol kesehatan,” jelas Oman.

Dalam Surat Edaran tersebut  menyebutkan dalam pelaksanaan praktek keagamaan penanggungjawab rumah ibadah berkewajiban menerapkan pembatasan jarak kurang lebih 1 meter.  Hal ini perlu dipatuhi, meskipun misalnya umat muslim meyakini afdaliyah (keutamaan) salat berjemaah adalah merapatkan barisan.

“Kita ingin rumah ibadah itu harus menjadi contoh yang baik, dalam penanganan covid-19 di dalam penegakan disiplin protokol kesehatan,” katanya

Untuk itu Oman menyampaikan, untuk teknis penerapan surat edaran tersebut Kemenag juga melakukan dua jalur sosialisasi. Pertama, jalur struktural,  melalui Kantor-kantor Wilayah Kementerian Agama, Kankemenag Kota, hingga para penyuluh agama. “Ini agar sampai kepada masyarakat khususnya ke para pengelola rumah ibadah,” jelas Oman.

“Kedua, jalur yang kami tempuh ya melalui upaya mendorong partisipasi masyarakat,” pungkas dia

Rep. Aldiansyah Nurrahman