Sabtu, 30 Mei 2020
08 Shawwal 1441 H
Home / Lifestyle / Wapres Minta MUI Godok Fatwa Boleh Salat Tanpa Wudu
FOTO l Dok. Islam.nu.or.id
Komisi Fatwa MUI tengah melakukan pembahasan soal fatwa terkait aspek keagamaan saat penanganan pandemi Covid-19.

Sharianews.com, Jakarta ~ Jumlah negara yang mengonfirmasi kasus positif virus corona (Covid-19) terus bertambah. Menurut data Worldometers, Kamis (26/3) sebanyak 198 negara yang telah mengonfirmasi kasus positif corona. Sementara, angka kasusnya tercatat 467.520 kasus yang terkonfirmasi, dengan 21.174 orang meninggal dunia, dan 113.808 pasien sembuh.

Sejumlah aspek kelembagaan di suatu negara mencoba mengambil inisiatif untuk membendung corona. Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuatkan fatwa terkait kebolehan salat tanpa wudu dan tanpa tayamum sehingga bisa menenangkan petugas medis.

Dalam laman Mui, Ma’ruf menjelaskan, selama bertugas menangani corona ini, para petugas medis tidak diperkenankan membuka pakaiannya sampai delapan jam, sehingga tidak kemungkinan bertayamum atau wudu.

“Kemungkinan dia tidak bisa melakukan, kalau mau salat tidak bisa wudu, tidak bisa tayamum, saya mohon ada fatwanya misalnya tentang kebolehan orang salat tanpa wudu, tanpa tayamum, ini menjadi penting sehingga petugas bisa tenang,” paparnya.

Menanggapi hal tersebut, Komisi Fatwa MUI tengah melakukan pembahasan soal fatwa terkait aspek keagamaan saat penanganan pandemi Covid-19. Rapat mendalami masalah pemakaian APD bagi tenaga kesehatan serta pelaksanaan salatnya saat bertugas bersama ahli kesehatan.

Rapat yang diselenggarakan secara daring pada Selasa (24/3) ini, menghadirkan dua guru besar di bidang kesehatan, yaitu Prof Dr Budi Sampurno, guru besar bidang medikolegal Fakultas Kedokteran UI dan Prof drh Wiku Adisasmito, Ketua Tim Pakar Satgas Covid-19.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam mengatakan, pembahasan fatwa yang diusulkan wapres tersebut, merupakan tindak lanjut dari pembahasan fatwa yang telah diterbitkan sebelumnya. Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 menjelaskan tentang pelaksanaan ibadah dalam situasi pandemi Covid-19 dengan tujuan mencegah penyebaran penyakit tersebut di antara umat Muslim.

Dalam fatwa ini, nanti intinya adalah bagaimana pelaksanaan ibadah tetap dapat dilaksanakan, tetapi tetap dalam konteks perlindungan jiwa.

“Tadi kami mendengar pandangan ahli untuk memperoleh maklumat dari pihak yang otoritatif, sehingga diperoleh info yang valid. Alhamdulillah informasi yang diharapkan oleh peserta rapat dapat digali dari dua narasumber. Insyaallah dalam waktu dekat sudah bisa difatwakan, untuk memberi panduan. Kami intensif melakukan pembahasan. Ini sebagai wujud komitmen dan kontribusi keagamaan dari MUI dalam khidmah ummatiyah dan khidmah wathaniyah,” pungkas Niam. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo