Minggu, 27 September 2020
10 Ṣafar 1442 H
Home / Keuangan / Wapres Ungkap Alasan Indonesia Belum Jadi Pusat Keuangan Syariah Dunia
Foto dok. Markus Spiske/Pexels
Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin tegaskan pemerintah ingin Indonesia menjadi pusat keuangan syariah dunia

Sharianews.com, Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin tegaskan pemerintah ingin Indonesia menjadi pusat keuangan syariah dunia.

Lebih spesifik, Ma’ruf mengungkapkan pencapaian Indonesia saat ini dibidang keuangan syariah sudah ada yang merajai dunia. Bidang itu adalah sukuk.

“Sekarang yang sebenarnya paling tinggi di dunia itu sukuknya atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), kita paling tinggi di dunia sudah melewati Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Malaysia,” tuturnya, dalam bincang virtual bertema Industri Syariah di Bawah Komando Wapres Ma’ruf Amin, Kamis (6/8).

Namun, ia mengakui untuk bidang lain, seperti perbankan syariah dan pasar modal syariah masih tertinggal dibanding negara lain. Oleh karena itu, pemerintah akan malakukan upaya-upaya penguatan di bidang tersebut.

Untuk mengambangkan keuangan syariah, Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) ini mengatakan ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi.

Tantangan itu diantranya adalah permodalan. Menurutnya, selama ini yang dihadapi oleh perbankan syariah itu hidup dengan dana mahal, yaitu dana yg sifatnya deposito.

“Depostio-deposito itu mahal, sedangkan dana tabungan itu masih belum besar, karena itu yang harus digalakkan itu dana-dana murah ini. Mungkin setelah pemerintah memberi stimulus-stimulus, ini juga memberikan peluang,” papar Ma’ruf.

Tantangan selanjutanya adalah produk yang harus variatif dan ramah terhadap pasar. Kemudian, tantangannya adalah tenaga atau sumber daya manusia. Terakhir, tantangannya adalah membangun infrastruktur teknologi.

Pada kesempatan yang sama, Ma’ruf juga menyampaikan terkait indsutri halal, sertifikasi halal Indonesia menjadi rujukan global. Standar halal Indonesia dipakai di dunia. Sudah lebih dari 50 lembaga sertifikasi dunia menggunakan standar halal Indonesia.

“Tapi untuk produk halalnya, industri halalnya, kita masih jauh tertinggal sekali. Ini yang akan kita mulai untuk mengembangkan ini dengan membuka kawasan industri halal di Kawasan Ekonomi Khusus maupun juga di kawasan industri halal tersendiri,” ungkap dia.

Rep. Aldiansyah Nurrahman