Minggu, 16 Juni 2019
13 Shawwal 1440 H
Home / Zakat insight / Zakat Meningkatkan Kesejahteraan Spiritual
FOTO I dok. Baznas
Dalam pengukuran dampak zakat dengan menggunakan indeks kemiskinan umum digunakan beberapa indikator yaitu Headcount Index (H), Income Gap Ratio (I), Poverty Gap (P1), Sen Index (P2), FGT Index (P3) serta Time Taken to Exit Poverty. Headcount Index (H) digunakan untuk mengukur banyaknya jumlah penduduk miskin di suatu wilayah.

Sharianews.com, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) merupakan lembaga negara non struktural yang bertanggung jawab kepada presiden. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, BAZNAS memiliki empat fungsi:

  • pengelolaan zakat yaitu: Perencanaan pengumpulan, pendistribusian, dan
  • pendayagunaan zakat; Pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan
  • pendayagunaan zakat; Pengendalian pengumpulan, pendistribusian, dan
  • pendayagunaan zakat; dan Pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan zakat (Puskas BAZNAS,2018).

Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Baznas memiliki lembaga- lembaga program yang mendukung BAZNAS dalam menyalurkan dana zakat, infak, sedekah (ZIS) baik itu untuk kegiatan pendistribusian maupun untuk kegiatan pendayagunaan. Kegiatan pendistribusian Baznas  yaitu penyaluran dana zakat yang bersifat karitatif atau bersifat kedaruratan seperti untuk memenuhi kebutuhan dasar para mustahik. Sedangkan pendayagunaan adalah penyaluran dan ZIS pada kegiatan yang bersifat produktif.

Adapun lembaga-lembaga program yang mendukung kegiatan penyaluran Baznas yaitu Zakat Community Development (ZCD), Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM), Baznas Micro Finance (BMFi), Lembaga Beasiswa Baznas (LBB), BAZNAS Tanggap Bencana (BTB), Layanan Aktif Baznas (LAB), Rumah Sehat Baznas Indonesia (RSBI), Sekolah Cendekia Baznas (SCB), Muallaf Center Baznas (MCB), dan Pusat Kajian Strategis (Puskas). Selain itu, terdapat pula Layanan Publik yang dikelola langsung oleh Direktorat Pendistribusian dan Pendayagunaan Baznas dimana penyalurannya dilakukan tanpa melalui lembaga program.

Sebagai lembaga yang memiliki tujuan untuk pengelolaan zakat untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat dan meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan (pasal 3 UU No 23 tahun 2011), maka seluruh pelaksanaan penyaluran yang dilakukan oleh Baznas perlu untuk diukur sejauh mana dampak yang dihasilkan terhadap kesejahteraan mustahik. Pengukuran dampak zakat ini dapat dilakukan dengan menggunakan dua jenis pengukuran yaitu Pengukuran indeks kemiskinan umum; dan Pengukuran dengan menggunakan indeks kesejahteraan Baznas

Dalam pengukuran dampak zakat dengan menggunakan indeks kemiskinan umum digunakan beberapa indikator yaitu Headcount Index (H), Income Gap Ratio (I), Poverty Gap (P1), Sen Index (P2), FGT Index (P3) serta Time Taken to Exit Poverty. Headcount Index (H) digunakan untuk mengukur banyaknya jumlah penduduk miskin di suatu wilayah. Nilai headcount index berada di antara 0 dan 1, di mana semakin mendekati 1 berarti semakin banyak jumlah orang miskin dan semakin mendekati 0 maka semakin sedikit jumlah orang miskin. Selanjutnya, Income Gap Ratio (I) digunakan untuk mengukur tingkat kesenjangan pendapatan.

Semakin mendekati angka 0 berarti nilai kesenjangan pendapatan semakin kecil dan kondisi kelompok miskin semakin baik. Poverty Gap (P1) menunjukkan tingkat kedalaman kemiskinan dan diukur dengan nilai Rupiah. Semakin kecil dan semakin mendekati angka 0 rupiah maka poverty gap semakin kecil (kedalaman kemiskinan makin kecil). Sen index (P2) menunjukkan tingkat keparahan kemiskinan dengan nilai di antara 0 dan 1. Semakin mendekati angka 0 maka tingkat keparahan kemiskinan semakin berkurang. Indeks FGT (P3) menunjukkan tingkat keparahan kemiskinan dengan nilai diantara 0 dan 1. Semakin mendekati angka 0 semakin berkurang tingkat keparahan kemiskinan.

Berdasarkan indeks kemiskinan umum maka program penyaluran zakat yang baik yaitu program penyaluran yang memiliki nilai H, I, P1, P2 dan P3 pasca program yang lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai sebelum dilakukannya intervensi program. Sedangkan untuk indikator time taken to exit poverty, nilai yang baik adalah ketika waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari kemiskinan pasca program menjadi lebih rendah jika dibandingkan dengan sebelum program yang menunjukkan bahwa bantuan dana zakat dapat mempercepat seorang mustahik untuk keluar dari kemiskinan.

Indikator pengukuran yang kedua yaitu Indeks Kesejahteraan Baznas (IKB) yang terdiri dari tiga komponen indeks penyusun yaitu indeks kesejahteraan  CIBEST, indeks modifikasi IPM serta indeks kemandirian. IKB dikatergorikan menjadi lima ketegori mulai dari kategori tidak baik sampai dengan kategori sangat baik.

Dalam melakukan pengukuran dampak zakat pada lembaga program dan layanan publik Baznas tahun 2018, digunakan empat standar pengukuran yaitu Garis kemiskinan BPS bulan September 2018 sebesar Rp410.670 per kapita/bulan;  Standar had kifayah tahun 2018 sebesar Rp772.088 per kapita/bulan;  Nishab emas sebesar Rp4.724.583/bulan dengan menggunakan harga emas per tanggal 31 Desember 2018; dan (4) Nisab beras sebesar Rp5.240.000/bulan.

Berdasarkan keempat standar tersebut, pengukuran dampak zakat secara keseluruhan menunjukkan hasil yang baik. Hasil pengukuran indikator kemiskinan umum menunjukkan bahwa intervensi zakat yang diberikan dapat menurunkan kelompok miskin, kesenjangan pendapatan, kedalaman kemiskinan serta keparahan kemiskinan dan juga waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari kemiskinan.

Berdasarkan garis kemiskinan, jumlah kelompok miskin turun 28 persen setelah memperoleh dana zakat. Sedangkan berdasarkan had kifayah, penurunan jumalah kelompok miskin adalah 36 persen, jika diukur berdasarkan nisab beras maka penurunannya 23 persen serta jika diukur berdasarkan nishab emas maka penurunan jumlah kelompok miskin mencapai 26 persen.

Selain itu, pengaruh dampak zakat juga tidak hanya terlihat pada kesejahteraan material yang ditunjukkan dengan naiknya rata-rata pendapatan mustahik dari Rp2.266.771 sebelum menerima bantuan zakat menjadi Rp4.485.585 setelah menerima bantuan zakat, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan spiritualnya.

Hal ini tergambar pada skor CIBEST untuk kesejahteraan spiritual di mana nilainya menunjukkan 4,1 (sebelum intervensi dana zakat) dan meningkat menjadi 4,3 setelah mendapatkan intervensi dana zakat.

Adapun hasil pengukuran dengan menggunakan Indeks Kesejahteraan Baznas secara keseluruhan menggambarkan dampak zakat yang cukup baik dengan nilai 0,6 jika diukur berdasarkan standar garis kemiskinan. Sedangkan jika diukur dengan standar had kifayah, nilai IKB mencapai 0,5 dimana dapat dikategorikan sebagai kategori cukup baik. Namun nilai IKB secara keseluruhan memiliki nilai 0,3 jika diukur dengan standar nishab beras maupun nisab emas. Perbedaan hasil pengukuran ini terjadi karena adanya perbedaan nilai dalam ke-empat standar tersebut dimana nilai garis kemiskinan merupakan standar dengan nilai terendah dan nilai nishab beras merupakan standar dengan nilai tertinggi. (*)

Oleh : Priyesta Rizkiningsih

Tags: